Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua yang telah menjadi fondasi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari rahim pesantren lahir ulama, cendekiawan, negarawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat yang berkontribusi besar bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Karena itu, membicarakan pesantren tidak boleh dilakukan secara serampangan, tetapi juga tidak boleh dibungkam
Kemajuan teknologi yang berlangsung begitu cepat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) tidak hanya memengaruhi dunia industri dan ekonomi, tetapi juga mulai mengubah cara manusia belajar, berpikir, dan memperoleh pengetahuan. Dalam situasi seperti ini, dunia pendidikan menghadapi sebuah tantangan besar yang sering kali
Self-denial bukan sebagai bentuk penyiksaan diri, melainkan sebagai digital survival skill yang radikal, sebagai benteng perlawanan terhadap Adiksi Digital.
Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum meneladani hijrah Rasulullah SAW yang penuh pengorbanan, keikhlasan, dan perjuangan. Muharram mengajak umat Islam berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran, dari cinta dunia menuju cinta akhirat, serta memperkuat semangat dakwah, akhlak, dan kontribusi nyata demi kemaslahatan umat.
Dalam suatu kesempatan bincang-bincang santai ngalor-ngidul dengan Dava (anak ragil saya), dia bercerita bahwa ada sebuah perguruan tinggi (tepatnya college of music) di Boston-MA, Amerika, yang mempunyai motto: "Esse Quam Videri".
Perjalanan panjang pendidikan formal sering kali menyerupai sebuah jalur produksi raksasa. Ia berdiri megah dengan kurikulum, ijazah, gelar, dan serangkaian standar yang disusun begitu sistematis. Dari luar tampak seperti jalan kemajuan, namun di dalamnya terdapat kecenderungan yang sunyi: manusia diperlakukan seperti produk yang dicetak seragam, dipoles agar sesuai kebutuhan zaman, pasar, dan kek