Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi momentum historis dan titik balik bagi Nahdlatul Ulama dalam menapaki abad kedua. Forum tertinggi ini bukan sekadar panggung pergantian kepengurusan atau arena kalkulasi kekuatan elite, melainkan panggilan krusial untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan melalui rekonsiliasi kelembagaan yang bermartabat.
Pada akhirnya, setiap kontestasi kepemimpinan dalam sebuah organisasi besar tidak boleh berhenti pada persoalan siapa yang akan menduduki sebuah jabatan. Jabatan hanyalah instrumen. Yang lebih penting adalah gagasan besar apa yang hendak dibawa, arah perubahan apa yang ingin diwujudkan, dan nilai apa yang akan menjadi fondasi dalam menjalankan amanah tersebut.
Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama, kepemimpinan selalu lahir dari pertemuan antara kebutuhan zaman, tradisi keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca perubahan sosial.
"Yang paling cepat meninggalkan manusia bukanlah usia, melainkan kekuasaan." Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ketika seseorang memperoleh jabatan, dunia seakan berubah mengelilinginya. Pintu-pintu yang dahulu tertutup mendadak terbuka. Orang-orang yang sebelumnya menjaga jarak tiba-tiba menjadi akrab.
Mengapa, ketika seseorang akhirnya berhasil, justru wajah orang-orang yang dulu meremehkannya kembali terlintas dalam ingatan?" Barangkali hampir setiap orang pernah mengalami hal ini. Ketika cita-cita yang dahulu terasa mustahil akhirnya tercapai, atau ketika kehidupan mulai berubah menjadi lebih baik, tiba-tiba ingatan membawa kita kembali pada masa ketika diremehkan, ditolak.