Peringatan tahun baru hijriyah tanggal 1 Muharam 1448 tahun ini terasa agak beda. Indonesia, dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sedang menghadapi tekanan ekonomi. Terutama setelah nilai tukar rupiah merosot tajam, bahkan beberapa hari lalu mencapai Rp 18.200,-. Menyusul kemudian harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan bahan pokok yang mengalami kenaikan.
Dua Tugas
Peristiwa sosial yang terjadi dalam semua aspek kehidupan di masyarakat tentu dirasakan juga oleh dunia pesantren. Sebagai bagian dari masyarakat, pesantren memiliki peran besar untuk memberikan kontribusi positifnya dalam membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik. Pada konteks yang lebih jauh, kebaikan yang terbentuk di masyarakat tentu akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara.
Peran pesantren dalam memajukan masyarakat ini menjadi makin vital saat dipahami krisis keteladanan melanda Indonesia. Meminjam istilah Salahuddin Wahid (2007), yang menjadi krisis di Indonesia sebenarnya bukan krisis ekonomi. Namun ketiadaan keteladanan yang patut ditiru oleh bangsa ini, terlebih dalam aspek kepemimpinan. Pada konteks ini, peran pesantren untuk memproduksi generasi pinter dan bener menjadi suatu keniscayaan dalam mewujudkan community development.
Secara historis, pesantren merupakan institusi pendidikan tertua yang sudah berdiri di Nusantara jauh hari sebelum bangsa kolonial datang. Bahkan jika diruntut, sistem pendidikan dengan konsep berasrama dalam mempelajari keilmuan agama tertentu, sudah ada sejak dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah menjadi pusat pengkajian keilmuan bagi agama Hindu dan Budha. Ini menarik dikaji dalam mengimbangi dominasi sistem persekolahan yang secara historis dibawa Belanda.
Pesantren adalah wadah berlangsungnya proses pendidikan Islam dengan kajian keilmuan menjadi kekuatan utama sebagai bentuk transfer of science. Bersamaan dengan itu adalah adanya proses pembudayaan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam agama Islam sebagai sebuah transfer of values. Proses tersebut dilakukan secara kontinyu dengan tetap mengakomodasi tradisi yang sudah ada di masyarakat Nusantara.
Pesantren merupakan basis historis serta akar filosofis pendidikan di Indonesia itu sendiri. Meminjam analisis Manfred Ziemek dalam opus-nya Pesantren dalam Perubahan Sosial (1986), menegaskan bahwa pesantren adalah embrio utama serta tonggak berdirinya sejarah pendidikan di Indonesia sampai dewasa ini.
Dalam Bilik-bilik Pesantren (2010), Prof. Nurcholish Majid menyebut bahwa jika Indonesia tidak dijajah oleh kolonial Belanda, maka yang populer di Indonesia pada masa sekarang bukan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga dan seterusnya. Namun justru perguruan tinggi yang berbasis pondok pesantren, seperti Universitas Gontor, Universitas Lirboyo, Universitas Tebuireng, Universitas Tambakberas dan sebagainya.
Faktor ketahanan (resilience) dari lembaga-lembaga pendidikan Islam Nusantara juga menarik untuk dicermati. Di Indonesia, menurut Ulil Abshar Abdalla (2021), terdapat dua jenis atau rezim pendidikan, yaitu modern dan tradisional. Pendidikan modern secara formal dibiayai 20% dari APBN, biasanya berada di daerah perkotaan, berbentuk seperti sekolah dan kampus.
Sistem kedua adalah sistem kerakyatan yang berada di daerah pedesaan, seperti pesantren, madrasah, meunasah, dayah, rangkang dan langgar. Namun tidak ada pesantren yang lahir dari patronase negara. Semua berdiri secara independen dari rakyat, dengan bantuan pemerintah yang sangat minim. Kehebatan sistem kedua ini mampu bertahan hingga sekarang dengan kurikulum yang relatif stabil dan mandiri.
Cermin Kualitas
Pesantren memiliki tiga metode pembelajaran yang tetap eksis sejak kelahirannya hingga sekarang. Ketiganya berhasil menopang esksistensi dunia pesantren dalam memberikan kontribusi positif untuk mencerdaskan anak bangsa. Ketiga metode itu adalah sorogan, bandongan dan wetonan.
Meski dengan istilah berbeda, secara substansi, ketiga metode diadopsi dunia pendidikan masa sekarang. Konsistensi dunia pesantren untuk tetap mengimplementasikan tiga metode pembelajaran di dunia modern mewariskan karakter positif bagi generasi milenial. Bahkan ketiganya menunjukkan resiliensi pesantren dari berbagai zaman, mulai pra-kolonial hingga sekarang di era digital.
Metode sorogan akan membangun karakter mandiri bagi generasi milenial dalam menghadapi kehidupan. Pada konsep ini, tercetuslah istilah student center pada masa sekarang. Konsistensi metode bandongan sudah terbukti membentuk karakter santri milenial untuk tetap mengikuti alur peraturan yang sudah digariskan. Sedangkan metode wetonan mendorong generasi milenial untuk terus menjaga relasi positif dengan lingkungan sosialnya. Ini karena kepekaan sosial menjadi kritik keras bagi generasi milenial, di samping attitude yang masih jauh dari ekspektasi.
Santri pada era digital sekarang ini adalah generasi calon penerus bangsa yang harus terus dibekali dengan kemajuan sains-teknologi. Di samping tetap harus secara kontinyu untuk menjaga ketahanan moral yang sudah diajarkan di pesantren. Pada posisi ini, pesantren adalah institusi pendidikan yang akan terus menunjukkan urgensi dan signifikansinya bagi peningkatan mutu generasi milenial.
Dunia pesantren sudah seharusnya dijadikan cermin konkrit dalam memajukan kualitas pendidikan. Bahwa konsistensi mengimplementasikan tiga metode pembelajaran di atas telah mampu menjaga eksistensi pesantren di tengah gempuran perubahan zaman. Tidak sekedar ganti menteri ganti kurikulum. Dan, otomatis berganti pula “istilah-istilah baru” yang disosialisasikan.
Spirit tahun baru hijriyah seharusnya menjadi momentum tepat bagi pesantren untuk makin memperkokoh eksistensi diri dalam memajukan peradaban. Baik melalui tugas utama di dunia pendidikan maupun dalam mengemban community development. Itu semua tetap dalam kerangka mewujudkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Semoga.
Penulis: Mukani (Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur, Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk dan Alumni Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang)