Islam tidak berhenti pada mihrab dan sajadah. Ia adalah agama yang menuntun manusia bukan hanya untuk sujud dengan khusyuk, tetapi juga untuk menegakkan keadilan sosial. Kesalehan dalam Islam bukan hanya vertical antara hamba dan Tuhannya tetapi juga horizontal—antara manusia dan sesamanya. Di sinilah zakat menemukan maknanya yang sejati: ibadah spiritual yang berfungsi sosial.
Dalam kehidupan modern, utang telah menjadi fenomena sosial yang nyaris dianggap lumrah. Banyak orang berutang bukan karena kebutuhan pokok, melainkan karena dorongan gaya hidup konsumtif dan keinginan untuk terlihat setara dengan orang lain.
Santri nggak cuma paham agama, tapi juga siap mental, fisik, dan sosial buat hadapi dunia yang penuh plot twist. Salah satunya lewat edukasi kesehatan reproduksi (kespro) yang sehat, santun, dan syar’i.
Di era modern seperti sekarang, ragam instrumen investasi semakin beragam. Ada investasi konvensional atau tradisional seperti emas, tanah, dan properti, dan ada pula investasi modern seperti saham dan kripto.
Ada sebuah kegelisahan besar yang sedang menjalar ke seluruh dunia pendidikan hari ini, sekolah semakin maju fasilitasnya, tetapi semakin miskin kebijaksanaannya. Generasi kian cerdas, tetapi kehilangan arah. Gelar bertambah, tetapi martabat menurun. Inilah saat di mana pesantren menjadi tempat istirahat terakhir bagi nilai-nilai yang modernitas tidak mampu pelihara: ketulusan, adab, dan ketenanga
Sejarah mencatat bahwa santri NU memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 membakar semangat para santri untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi belanda.
Santri menjadi elemen penting dalam mendakwah Islam di masyarakat. Dalam lintasan sejarah Nusantara, Santri telah menjadi motor penggerak nilai-nilai keislaman dan keindonesian. Santri pada gilirannya dicirikan berwatak moderat, cinta tanah air, dan promotor perdamaian.
Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (2007), Kuntowijoyo menjelaskan, bahwa agama tidak boleh berhenti pada dogma saja, tetapi agama harus menjadi sebuah ilmu yang rasional dan empiris, yang mampu menjelaskan realitas sosial.
bagaimana relasi gender yang dibangun dan dipraktikkan di dunia pesantren, terkhusus berkaitan dengan peran santri perempuan?