Press ESC to close

Ketika Gus Dur Masih Ada: Sebuah Buku, Sebuah Ingatan, dan Indonesia yang Kita Rindukan

Ada kalanya sebuah buku datang bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi seperti seseorang yang mengetuk pintu ingatan. Ia membuka halaman demi halaman, lalu tanpa terasa membawa kita kepada sebuah suasana yang pernah begitu akrab: Indonesia yang hangat, penuh perbedaan, tetapi tidak mudah saling membenci. Begitulah perasaan saya ketika membaca buku ini buku yang saya peroleh dari sebuah acara Gus Durian bersama organisasi lintas agama dan mahasiswa di Jember beberapa waktu lalu.

Saya tidak tahu apakah buku ini sengaja saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan, atau justru buku inilah yang diam-diam memilih untuk tinggal lebih lama dalam pikiran saya. Yang jelas, setelah membacanya, saya merasa seperti sedang bertemu kembali dengan Gus Dur. Bukan Gus Dur yang berdiri di atas panggung, bukan pula Gus Dur yang hanya kita kenal melalui potongan humor dan cerita tentang dirinya, melainkan Gus Dur yang hadir melalui gagasan-gagasannya: sederhana, nakal dalam kritik, hangat dalam pergaulan, tetapi sangat serius ketika berbicara tentang kemanusiaan.

Membaca tulisan-tulisan di dalamnya membuat saya semakin memahami mengapa Gus Dur selalu sulit ditempatkan hanya dalam satu kotak. Ia berbicara tentang Islam, tetapi pikirannya tidak berhenti di masjid. Ia berbicara tentang demokrasi, tetapi tidak terjebak pada angka-angka pemilu. Ia berbicara tentang hukum, tetapi yang dicari bukan sekadar ketertiban. Yang terus ia kejar adalah keadilan dan kemanusiaan.

Salah satu bagian yang paling menarik bagi saya adalah ketika Gus Dur berbicara mengenai good governance. Ia mengingatkan bahwa etika global tidak akan banyak berarti jika tidak disertai “kedaulatan hukum dan keadilan dalam hubungan internasional.” Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi semakin dibaca justru semakin dalam. Sebab pemerintahan yang baik bukan hanya pemerintahan yang pandai membuat aturan. Ia harus mampu memastikan bahwa hukum tidak hanya berdiri di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi rumah bagi keadilan.

Gus Dur juga mempunyai cara yang sangat khas dalam melihat perbedaan. Ia tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa sesuatu yang berbeda pasti salah. Bahkan dalam persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam, ia menunjukkan bahwa keyakinan seseorang tidak harus berubah menjadi alat untuk mengatur semua orang. Ia sendiri mempunyai keyakinan dan batas-batas yang jelas sebagai seorang Muslim. Namun, keyakinan itu tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk menghargai orang lain.

Saat itu saya menemukan kehangatan Gus Dur. Ia seperti sedang berkata kepada kita: silakan menjadi diri sendiri, tetapi jangan merasa bahwa hanya diri sendirilah yang berhak hidup.

Gagasan itu terasa semakin kuat ketika ia berbicara mengenai dialog antaragama. Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konghucu, Shinto, dan berbagai agama lainnya tidak harus dipertemukan untuk mencari siapa yang paling benar. Mereka perlu dipertemukan agar manusia belajar mengenal manusia lainnya. Perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan perdebatan. Kadang-kadang, perbedaan cukup ditemani dengan kesediaan untuk mendengar.

Saya teringat pada gagasan Gus Dur dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Ada “Islamku”, ada “Islam Anda”, dan ada “Islam Kita”. Di antara ketiganya terdapat ruang yang luas: ruang tempat keyakinan pribadi bertemu dengan kehidupan bersama. Di ruang itulah kita diuji bukan tentang seberapa keras kita mengaku paling benar, tetapi tentang seberapa lapang hati kita ketika berhadapan dengan mereka yang tidak sama.

Gus Dur juga membawa kita kembali kepada Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia memang sejak awal bukan rumah yang dibangun dari keseragaman. Ia lahir dari perbedaan. Karena itu, perbedaan seharusnya tidak membuat kita sibuk mencari siapa yang harus disingkirkan. Justru perbedaan itulah yang membuat Indonesia menjadi Indonesia.

Mungkin karena itu buku ini terasa begitu dekat dengan keadaan kita hari ini. Di tengah masyarakat yang semakin mudah terpecah hanya karena pilihan politik, agama, kelompok, atau perbedaan cara pandang, tulisan Gus Dur terasa seperti secangkir kopi hangat yang datang di tengah percakapan yang mulai meninggi. Ia tidak menggurui. Ia hanya mengajak kita berhenti sebentar, menarik napas, lalu melihat kembali manusia di hadapan kita sebagai manusia.

Setelah buku ini selesai saya baca, muncul satu pertanyaan yang sederhana tetapi cukup mengganggu: ketika Gus Dur sudah tidak bersama kita, siapa yang akan meneruskan cara pandangnya?

Barangkali jawabannya bukan siapa-siapa, melainkan kita semua. Sebab Gus Dur tidak harus selalu dicari dalam foto, pidato, atau makamnya. Ia bisa hidup dalam keberanian kita membela yang lemah, dalam kesediaan kita berdialog dengan yang berbeda, dalam sikap kita menghormati keyakinan orang lain, dan dalam keberanian mengatakan bahwa hukum harus berpihak kepada keadilan.

Maka buku yang saya bawa pulang dari perjumpaan Gus Durian di Jember itu akhirnya bukan sekadar sebuah buku. Ia menjadi semacam oleh-oleh intelektual sebuah pengingat bahwa Indonesia yang kita rindukan mungkin tidak hilang. Ia hanya sedang menunggu kita untuk kembali merawatnya.

Dan mungkin, di situlah Gus Dur masih ada: dalam setiap perbedaan yang kita pilih untuk hormati, dalam setiap keadilan yang kita perjuangkan, dan dalam setiap manusia yang kita perlakukan dengan kasih sayang.

Judul: Tuhan Akbrab dengan Mereka
Keterangan: Kumpulan Tulisan Gus Dur tentang Toleransi & Keberagaman
Edisi: Edisi Revisi
Penulis: Abdurrahman Wahid
Pengantar: Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI 2014–2019)
ISBN: 978-623-09-9008-3

Penerbit:
Yayasan Bani Kiai Haji Abdurrahman Wahid
Jl. Taman Amir Hamzah No. 8, RT.1/RW.4, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta

Cetakan Pertama: April 2024
Cetakan Kedua: Desember 2024

Ukuran: xii + 255 hlm.; 14 × 20 cm

Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak buku ini tanpa persetujuan tertulis dari penerbit.

Wildan Miftahussurur

Wildan Miftahussurur, S.Ag., S.H., M.Pd. adalah alumnus Ma'had Aly Nurul Qarnain dan Universitas At-Taqwa Bondowoso. Saat ini mengabdikan diri di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember. Ia aktif sebagai Editor in Chief Islamic Studies of Global South (ISGS), serta Assistant Editor Journal of Islamic Economics Perspectives (JIEP) dan Indonesian Journal of Islamic Law (IJIL) UIN KHAS Jember.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Sekutip Resensi, Sufipreneur: Ketika Ibadah, Kerja Keras, dan Kekayaan Bertemu dalam Satu Jalan
Kenapa Harus Dipisahkan Dan Saling Menyalahkan?
Menapaktilasi Jejak Cinta Para Pemuda Kader Rasulullah
Dakwah Membumi Kiai Kampung

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.