Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I. mengajak santri putri untuk percaya diri, aktif berorganisasi, dan terus mengembangkan potensi diri saat menghadiri Pelantikan OSIM MDW-SS 2 Putri. Menurutnya, pendidikan pesantren menjadi bekal penting dalam membentuk karakter, kepemimpinan, dan akhlak generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum meneladani hijrah Rasulullah SAW yang penuh pengorbanan, keikhlasan, dan perjuangan. Muharram mengajak umat Islam berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran, dari cinta dunia menuju cinta akhirat, serta memperkuat semangat dakwah, akhlak, dan kontribusi nyata demi kemaslahatan umat.
Ribuan warga memadati puncak Harlah ke-32 MI At-Taqwa Bondowoso bertema Lentera Budaya Nusantara. Berbagai pertunjukan budaya, bazar kuliner, dan kegiatan religius menjadi sarana pendidikan karakter, pelestarian budaya, serta penguatan nilai keislaman bagi para siswa.
Yayasan At-Taqwa Bondowoso menggelar tasyakkuran dan peresmian Gedung Ruang Kelas Baru (RKB-7) berlantai tiga sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya pembangunan sarana pendidikan yang akan memperkuat aktivitas belajar mengajar di lingkungan lembaga. Kegiatan berlangsung di Kampus IAI At-Taqwa Bondowoso.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) Universitas Ibrahimy sukses menggelar Festival Ilmiah dan Ekonomi Islam (FISEI) 2026. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, kreativitas, dan keterampilan kewirausahaan melalui berbagai kompetisi yang diselenggarakan.
Mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kritik Lambannya Realisasi Janji PBB Gratis untuk Warga Miskin Ekstrem
Dalam suatu kesempatan bincang-bincang santai ngalor-ngidul dengan Dava (anak ragil saya), dia bercerita bahwa ada sebuah perguruan tinggi (tepatnya college of music) di Boston-MA, Amerika, yang mempunyai motto: "Esse Quam Videri".
Perjalanan panjang pendidikan formal sering kali menyerupai sebuah jalur produksi raksasa. Ia berdiri megah dengan kurikulum, ijazah, gelar, dan serangkaian standar yang disusun begitu sistematis. Dari luar tampak seperti jalan kemajuan, namun di dalamnya terdapat kecenderungan yang sunyi: manusia diperlakukan seperti produk yang dicetak seragam, dipoles agar sesuai kebutuhan zaman, pasar, dan kek
Dulu, saya tidak terlalu menyukai kajian hadis. Dibanding “fan” atau bidang-bidang keilmuan lain seperti kalam (teologi), falsafah, tasawuf, fiqh, dan cabang-cabang keilmuan keislaman lain, kajian hadis dalam pandangan saya ketika masih “muda” dulu terkesan kering dan membosankan. Apalagi jika sudah berhubungan dengan rantai sanad, saya kurang begitu berminat. Kalaupun mempelajari hadis, fokus