Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Saatnya Umat Berhijrah dan Bangkit secara Ekonomi

Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Saatnya Umat Berhijrah dan Bangkit secara Ekonomi. Tahun baru Hijriyah bukan acara seremonial semata. Ia adalah ajakan untuk berubah. Menjadi Muslim yang bukan hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi umat.

Mantra Utama di Bulan Muharram

Alasan Muharram dimuliakan adalah karena di dalamnya terdapat hari Asyura. Dalam catatan sejarah, pada hari itu banyak terjadi peristiwa luar biasa, termasuk selamatnya Nabi Musa as dari kejaran pasukan Fir’aun. Banyak dari kalangan ulama salaf memberikan resep amalan dan mantra utama di bulan Muharram ini.

Mengenang 100 Tahun Komite Hijaz: Ketika KH. Abdul Wahhab Chasbullah Bertemu Langsung dengan Raja Abdul Aziz al-Saud (Dzulhijjah 1346–1446 H)

Sejarah awal mula perkembangan NU memang tidak bisa dilepaskan dari “Komite Hijaz”, yaitu sebuah kepanitiaan kecil (komite) yang dibentuk untuk pergi berlayar ke Hijaz dengan tujuan bertemu dengan Raja Abdul Aziz al-Saud (sebagai penguasa baru Hijaz), guna menyampaikan amanat dan membawa misi perjuangan umat Muslim Nusantara untuk melestarikan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ketika Sains dan Iman Bertemu di Hari Raya Kurban

Ibadah kurban bukan sekadar ritual, melainkan juga proses biologis yang sangat ilmiah. Pernahkah kita berpikir, bagaimana tubuh hewan bisa tetap “hidup” sesaat setelah disembelih? Atau kenapa daging kurban bisa lebih awet dan sehat jika disembelih sesuai syariat? Jawabannya terletak pada kerja para enzim dan proses biologis yang disebut apoptosis atau kematian sel yang terprogram.

Perang Doktrin: Ketika Pesantren dan Masyarakat Saling Menutup Diri

Fenomena dikotomi antara dunia pesantren dan masyarakat luar bukanlah hal baru dalam dinamika sosial keagamaan di Indonesia. Ketegangan ini kian terasa ketika kedua belah pihak membangun narasi eksklusif yang saling menegasikan. Di satu sisi, sebagian kalangan pesantren cenderung memandang dunia luar dengan kecurigaan. Di sisi lain, masyarakat luar pun kerap menggeneralisasi pesantren secara negat