Dalam kehidupan ini, manusia selalu tergerak oleh apa yang ia anggap berharga. Demikian yang dijelaskan oleh Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy bahwa “seseorang yang bisa menilai istimewanya sebuah barang maka ia akan berusaha mendapatkan barang itu, dan jika sudah mendapatkannya maka ia akan selalu menjaganya.” Prinsip ini bukan hanya berlaku untuk urusan duniawi seperti harta atau jabatan, namun sejatinya lebih hakiki jika diterapkan pada sesuatu yang paling bernilai dalam kehidupan: ilmu.
Bagi seorang santri atau siapa saja yang menapaki jalan pendidikan kesadaran bahwa ia tengah memegang harta paling istimewa harus tertanam dalam hati. Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, tapi adalah cahaya yang membimbing hidup. Karenanya, siapa yang memilikinya, wajib bersyukur dan menjaganya.
Ilmu: Jalan Satu-Satunya Keselamatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ
“Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi)
Hadis ini menegaskan bahwa hubungan seseorang dengan ilmu menjadi penentu keselamatan hidupnya. Jika ia tidak menjadi bagian dari empat golongan alim, penuntut ilmu, pendengar ilmu, atau pencinta ilmu maka ia tergolong orang kelima: orang yang tidak peduli sama sekali terhadap ilmu. Dan orang kelima inilah yang akan celaka.
Celaka di sini bukan semata kehancuran materi, tetapi kehancuran hati. Hati yang jauh dari ilmu adalah hati yang gelap dan tidak terhubung dengan cahaya ilahi. Itulah mengapa, dalam pandangan Islam, rusaknya hati adalah indikasi utama dari seorang manusia yang tidak dianggap oleh Allah Ta’ala.
Table of contents [Show]
Dunia dan Ilmu: Pandangan Hakiki
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ»
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah, dan apa yang mengiringinya, serta orang alim dan orang yang belajar.” (HR. Tirmidzi)
Ini adalah pengingat penting bahwa segala urusan dunia yang tidak mengarah kepada Allah adalah kesia-siaan. Dunia itu hina kecuali jika di dalamnya terdapat dzikir, ilmu, dan proses belajar mengajar. Itulah mengapa seorang santri, dan siapa pun yang terjun dalam dunia pendidikan, tidak boleh merasa rendah atau terasingkan. Justru merekalah yang sedang menjalani jalan paling agung di sisi Allah.
Pendidikan Modern: Mewarisi Semangat Keilmuan Pesantren
Lalu bagaimana nilai-nilai luhur ini diterjemahkan dalam konteks pendidikan akademik modern?
Saat ini, pendidikan telah mengalami banyak perubahan. Perkembangan teknologi, kurikulum berbasis industri, dan tekanan ekonomi telah menjadikan pendidikan kadang kehilangan ruhnya. Namun, nilai-nilai dasar yang diajarkan di pesantren seperti keikhlasan, pengorbanan, dan penghormatan terhadap ilmu tetap relevan bahkan sangat mendesak untuk dihidupkan kembali.
Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy menyampaikan bahwa: “Sebesar apa keikhlasan pendiri pesantren, maka sebesar itulah kemanfaatan yang akan disebar oleh pesantren itu.” Ini berarti bahwa pendidikan sejati harus dilandasi oleh niat yang benar. Akademisi yang ikhlas mengajarkan ilmunya, mahasiswa yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, dan institusi yang fokus pada kemaslahatan umat, akan mencetak perubahan nyata dalam masyarakat.
Ilmu: Amal yang Paling Agung
Dalam Islam, tidak ada amal yang lebih mulia dari menuntut ilmu dan menyebarkannya. Mengajarkan ilmu berarti menginfaqkan sesuatu yang paling berharga: waktu dan pemahaman.
“Sesuatu yang paling berharga bagi orang-orang alim adalah waktunya. Ketika ia menggunakan waktunya untuk mengajarkan dan menyebarkan ilmunya kepada orang lain, maka ia telah menginfaqkan sesuatu yang paling berharga baginya.”
Itulah mengapa para dosen, ustaz, guru, dan pengajar lainnya harus disadarkan betapa tingginya posisi mereka di sisi Allah. Mereka bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menghidupkan hati dan mempersiapkan generasi penerus bangsa yang tercerahkan.
Menyambung Dunia Akademik dan Dunia Pesantren
Sudah saatnya dunia pendidikan akademik dan dunia pesantren bersinergi, bukan saling menghakimi. Banyak mahasiswa yang berasal dari pesantren kehilangan semangat keilmuan setelah masuk kampus karena sistem akademik yang terlalu teknokratis dan minim spiritualitas. Sebaliknya, banyak santri yang tidak tertarik dengan akademik karena melihatnya sebagai dunia yang kering dan materialistik.
Padahal, jika nilai-nilai santri dikembangkan dalam pendidikan tinggi seperti adab terhadap guru, semangat belajar karena Allah, serta kesungguhan menjaga ilmu maka akan lahir para intelektual Muslim yang bukan hanya pintar, tapi juga beradab dan bertanggung jawab.
Sebaliknya, dunia kampus juga dapat memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan pesantren, terutama dalam hal metodologi pembelajaran, teknologi pendidikan, serta sistem manajemen yang modern. Pesantren yang terbuka terhadap pendekatan akademik tanpa kehilangan ruhnya akan menjadi pusat peradaban baru umat Islam.
Ilmu: Penentu Kualitas Bangsa
Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, hanya bangsa yang menjadikan ilmu sebagai panglima yang akan selamat. Bukan sekadar gelar atau akreditasi, tapi ilmu yang membentuk karakter, akhlak, dan ketangguhan mental.
Ilmu dalam pandangan Islam tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup: mendekatkan diri kepada Allah. Jika pendidikan modern tidak memiliki arah spiritual ini, maka akan melahirkan generasi yang pintar tapi bingung arah, cerdas namun hampa jiwa.
Penutup: Ilmu Sebagai Amanah
Ilmu adalah amanah. Ia tidak boleh disia-siakan. Maka, baik santri di pesantren maupun mahasiswa di universitas, harus menyadari bahwa mereka tengah memegang harta yang sangat mulia. Kesadaran ini akan menjadikan mereka bersyukur, tidak sombong, dan terus menjaga kemurnian niat belajar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Ilmu bukan sekadar tiket menuju pekerjaan, tetapi jalan menuju surga. Maka jagalah ia dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan pengabdian yang berkelanjutan.
Akhirnya, pendidikan—baik di pesantren maupun di dunia akademik—harus kembali pada misi sucinya: mencerdaskan kehidupan manusia dalam terang cahaya ilahi.