Seorang ahli ilmu pernah mengatakan bahwa sebagian dari mereka, sahabat-sahabat Nabi, jika bangun tidur dan melihat keluarganya memiliki sesuatu (kekayaan), maka mereka akan merasa sedih. Akan tetapi, jika mereka tidak memiliki apa pun, mereka merasa gembira dan bahagia.
Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh seorang yang mendekatkan diri kepada Tuhan adalah menjaga hati. Mengapa demikian? Karena hati layaknya seperti pintu yang harus dijaga khususnya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan. Jika ada perkara berbahaya yang mendobrak pintu, maka kemungkinan rusaklah segala apa yang ada di balik pintu. Begitulah gambaran hati.
Bulan Ramadan tidak hanya dipahami sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum penguatan dimensi intelektual. Di Pesantren hal ini termanifestasi melalui intensifikasi ngaji bandongan yaitu metode pembelajaran kolektif berbasis pembacaan kitab kuning atau turats.
Mengakui kesalahan dan bertaubat merupakan langkah yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menekankan pentingnya mengakui kesalahan bagi setiap manusia
Jika kita melihat kembali ayat-ayat tentang puasa dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183-189, di situ disebutkan apa yang hendaknya diraih dalam berpuasa, yaitu menjadi manusia bertakwa, menjadi manusia bersukur serta pada akhirnya memperoleh kemenangan. Dalam hal ini tentu saja kemenangan spiritual.
Nilai keseimbangan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya, bagaimana si kaya harus membantu yang miskin? Demikian juga bagaimana si miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain.