Press ESC to close

Gelombang Santri Baru: Percaya Pesantren sebagai Bengkel?

Tiap awal tahun ajaran, hiruk pikuk pesantren kembali terasa biasnya terjadi dari Syawal Idul Fitri hingga usainya penyembelihan hewan kurban Idul Adha. Dari gerbang pesantren, pelataran depan, lorong-lorong asrama, hingga dhalem pengasuh, semuanya dipenuhi wajah baru: para santri yang baru saja datang bersama orang tuanya "sowan" meminta izin menggali berkah di pesantren. Sebagian membawa koper besar penuh harapan, sebagian lain menyembunyikan air mata di balik sorban atau kerudung.

Di balik momen tahunan ini, terselip satu pertanyaan klasik yang nyaris selalu muncul dari para wali santri baru: “Anak saya dipondokkan di asrama mana?” atau mungkin "kenapa saya memondokkan anak saya?" Atau bisa saja "apa tujuan saya?", sebuah pertanyaan-pertanyaan sederhana, namun mengandung spektrum harapan, kecemasan, dan terkadang juga tekanan terlebih bagi anaknya dan pesantren.

Dalam sudut pandang penulis yang hidup dan tumbuh dalam tradisi kepesantrenan hingga saat ini, pertanyaan ini mencerminkan dua cara pandang wali santri dalam memaknai pesantren: apakah pesantren adalah tempat pendidikan berbasis kepercayaan, ataukah sekadar bengkel darurat tempat anak-anak yang "bermasalah" diperbaiki?

Bagi sebagian wali santri, menyerahkan anak ke pesantren adalah bentuk totalitas kepercayaan. Mereka tidak rewel soal kamar, tidak terlalu cerewet soal siapa teman sekamarnya dalam bahasa pesantrennya "sudah kerasan". Yang penting anak mereka mendapatkan barakah dari lingkungan, dididik oleh kiai, dan tumbuh dalam sistem yang telah ratusan tahun terbukti membentuk karakter islami yang baik.

Di sinilah kita melihat pesantren sebagai tempat yang penuh dengan “amanah” dan “taslim” (penyerahan). Orang tua yang memilih pesantren bukan hanya menyerahkan fisik anaknya, tetapi juga mental, akhlak, dan masa depannya hingga sedemikian rupa agar dibina oleh lembaga pesantren hingga siap kembali ke masyarakat nanti. Maka ketika anak dipondokkan di kamar yang sempit, bersama santri dari berbagai latar belakang, mereka melihatnya sebagai bagian dari latihan hidup yang begitu keras.

Pesantren sebagai Bengkel?

Namun, tidak semua wali memandang seperti itu. Ada juga yang menjadikan pesantren sebagai semacam “bengkel perbaikan” untuk anak-anak yang dianggap sulit diatur di rumah. Santri yang malas sekolah, terlalu aktif bermain, bahkan yang mulai terjerumus dalam pergaulan bebas dan kenakalan yang orang tuanya sendiri sudah angkat tangan karena tidak mampu meluruskan, lalu dikirim ke pesantren untuk “dibenahi”.

Persoalan muncul ketika harapan wali ini terlalu tinggi, namun kepercayaan kepada sistem pesantren justru sangat minim. Pemondokan pun menjadi ajang seleksi ketat: harus kamar steril, makanannya harus berkualitas, pakaian hingga fasilitas yang harus sangat mewah dan terkadang juga ada pesanan harus dengan teman-teman pilihan, dan kalau bisa kamar yang dekat dengan kantor pengasuh agar mudah dipantau.

Pesantren Bukan Tempat Sterilisasi Atau Barak Militer Tapi Tempat Transformasi

Perlu digarisbawahi, pesantren bukan ruang kedap tantangan dan garis keras untuk menghilangkan kata "nakal" yang tertanam di diri anak layaknya barak militer pembinaan. Justru di sinilah pesantren merupakan tempat pendidikan yang sejati. Seorang santri akan tumbuh melalui interaksi sosial yang beragam. Dia belajar bersabar karena teman sekamarnya ngorok. Dia belajar tolong-menolong karena harus berbagi satu ember dengan tiga orang. Dan dia belajar tanggung jawab karena harus menyapu kamar secara bergiliran dan kita ketahui bersama, mayoritas penghuni pesantren bukan sekedar dari satu suku dan daerah melainkan mereka tersebar dari berbagai perbedaan namun disatukan dalam asrama.

Pemondokan bukan sekadar urusan tempat makan dan tidur, tapi juga miniatur kehidupan yang akan mendewasakan mereka. Bahkan, dalam banyak kasus, justru kamar-kamar yang penuh tantangan itulah yang melahirkan santri-santri tangguh yang kelak menjadi pemimpin generasi Islam masa depan.

Ending, Percayakan Proses, Bukan Hanya Hasil

Orang tua harus kembali bertanya kepada diri sendiri: Mengapa saya memasukkan anak ke pesantren? Bila jawabannya adalah untuk mendidik, maka percayalah bahwa setiap kamar, setiap teman, setiap problematika adalah bagian dari pendidikan. Bukan musibah, tapi muslihat Allah untuk menjadikan anak kita pribadi yang lebih dewasa.

Maka, jangan tempatkan pesantren sebagai bengkel darurat. Tempatkanlah ia sebagai rumah pendidikan yang penuh keikhlasan. Dan biarkan anak-anak kita ditempa oleh sistem, bukan dibungkus dalam kenyamanan semu dan lebay sakitnya berbagai aduan. Kalimat penutup dari penulis “percayakan semuanya kepada pesantren tapi tetap doakan dari rumah untuk keberhasilan putra-putrinya kelak”.

Wildan Miftahussurur

Wildan Miftahussurur adalah alumnus mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember sekaligus mahasiswa pascasarjana IAI At Taqwa Bondowoso saat ini. Aktif di dunia akademik dan keagamaan, ia menjadi bagian dari tim editorial Indonesian Journal of Islamic Law serta terlibat dalam berbagai kegiatan Nahdlatul Ulama di Jawa Timur. Wildan dikenal sebagai penulis muda yang konsisten menyuarakan gagasan

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.