Mengakui kesalahan dan bertaubat merupakan langkah yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menekankan pentingnya mengakui kesalahan bagi setiap manusia
Nilai keseimbangan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya, bagaimana si kaya harus membantu yang miskin? Demikian juga bagaimana si miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain.
Cara menguatkan tekad ini adalah dengan senantiasa mengingat Allah Swt dan berpikir positif atas segala yang telah Allah berikan. Ingat kepada Allah ini adalah satu dari sekian banyak cara yang bisa kita lakukan supaya tetap konsisten.
Pastinya banyak diantara kita yang menginginkan dekat dengan Tuhan, tetapi banyak dari kita yang tidak paham dan tidak mengetahui bagaimana cara dan langkah awal untuk mendekati-Nya
Kriteria yang membentuk seorang pemimpin sangat penting dalam studi politik Islam sunni, terutama yang berkaitan dengan periode Imam Al-Ghazali. Pemimpin biasanya dinilai berdasarkan dua kriteria utama: keturunan Quraisy dan keahlian khusus.
KH. Abdul Muhith adalah seorang ulama alumni Al-Azhar Kairo Mesir yang mendirikan madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) bersama KH. Noor Khudlrin. Ia juga pendiri madrasah Ma’ahid. Lokasi keduanya dekat dengan Menara Kudus.
Malaikat diciptakan Allah Swt. dengan berbagai tugas untuk menjalankan ketetapan Allah Swt. di dunia. Banyak riwayat dan cerita yang sudah populer di masyarakat tentang malaikat, baik nama-namanya dan juga tugasnya masing-masing. Salah satunya adanya malaikat yang berada di pundak kanan dan kiri setiap insan. Lalu apakah benar riwayat itu benar?
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menghadirkan pendekatan yang menyejukkan: amaliyah NU bukanlah hasil rekaan belaka, melainkan berakar kuat pada dalil-dalil shahih, dengan cara pembacaan induktif yang diajarkan ulama.
Dalam dunia yang terus bergerak, menjadi Muslim bukanlah status tetap. Ia adalah proyek tahawwul, perubahan terus-menerus. Dan pemikiran Islam kontemporer adalah peta, kompas, dan mungkin juga cermin untuk menuntun perjalanan panjang itu—agar tetap berakar pada nilai ilahiah, tetapi tidak tertinggal oleh perubahan zaman.