Kemajuan teknologi telah mengubah pola komunikasi manusia secara drastis. Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang berbagi ilmu dan mempererat silaturahmi, justru sering digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian, hoaks, dan budaya pamer. Dalam kondisi ini, ajaran al-akhlaqu lil banin tentang kejujuran (shidq), menjaga lisan (hifzhul lisan), serta sopan santun (adab) menjadi semakin relevan.
Tahun 1937, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Malang. Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) tampil elegan dengan mendelegasikan drumband yang dipandegani oleh BANOE (Barisan Ansor NO). Seorang pemuda cakap, Hamid Rusydi, tampil jadi mayoret.