Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menghadirkan perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Prof. Dr. Dra. Hj. Hamdanah Utsman, M.Hum., CPLA, Guru Besar Universitas Islam Jember (UIJ), menempatkan perkembangan teknologi tersebut dalam kajian yang berkaitan dengan manajemen pendidikan, pesantren, keadilan gender, serta penguatan nilai-nilai Islam. Jember, (16/08/2026).
Prof. Hamdanah yang juga dosen Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember, menilai pengembangan pendidikan Islam perlu memperhatikan karakter setiap lembaga.
“Setiap lembaga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing,” kata Prof. Hamdanah.
Menurutnya, pesantren, madrasah, dan sekolah umum memiliki sejarah, kultur, tradisi keilmuan, dan orientasi yang berbeda. Karena itu, pola pengelolaan pendidikan tidak dapat diterapkan secara seragam.
“Model yang berhasil di satu lembaga belum tentu dapat diterapkan begitu saja di lembaga lain,” ujarnya.
Dalam konteks pesantren, transformasi juga perlu berjalan dengan tetap memperhatikan tradisi keilmuan dan nilai spiritual. “Transformasi bukan berarti meninggalkan identitas. Pesantren dapat berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya,” tuturnya.
Selain pesantren, isu keadilan gender menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Prof. Hamdanah menekankan pentingnya kesempatan yang adil bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan, mengembangkan kapasitas, memimpin, dan mengabdi.
“Yang menjadi ukuran bukan semata-mata laki-laki atau perempuan, tetapi ilmu, kapasitas, ketakwaan, integritas, dan kemampuan memberikan manfaat,” katanya.
Ia juga menempatkan perempuan sebagai subjek penting dalam pendidikan Islam. “Perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi pendidik, penggerak sosial, fasilitator, pemimpin, dan pengembang ilmu,” ujarnya.
Sementara dalam perkembangan AI, Prof. Hamdanah melihat teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, pengelolaan informasi, evaluasi, dan manajemen pendidikan. “Teknologi hanyalah alat. Tujuan pendidikan tetap berada di tangan manusia,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Jangan hanya bertanya seberapa cepat AI bekerja, tetapi juga manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui pendidikan.”
Karena itu, pemanfaatan AI perlu ditempatkan dalam kerangka iman, ilmu, moralitas, dan hikmah. “AI membantu manusia, tetapi tidak menggantikan tujuan pendidikan dalam membentuk manusia yang berilmu dan berakhlak,” jelasnya.
Gagasan tersebut dituangkan dalam karya Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Artificial Intelligence. Menurut Prof. Hamdanah, transformasi digital juga membutuhkan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan literasi digital.
“Transformasi digital bukan hanya persoalan menghadirkan perangkat dan aplikasi. Yang lebih penting adalah kesiapan manusia yang menggunakannya dan nilai yang mengarahkannya,” ungkapnya.
Prof. Hamdanah menyelesaikan S1 di Fakultas Tarbiyah IAIN Jember, S2 di Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan S3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Karya-karyanya mencakup isu perempuan, gender, pesantren, sosial budaya, kebijakan publik, manajemen pendidikan, kepemimpinan spiritual, pendidikan digital, hingga AI.
“Pendidikan Islam harus mampu berubah tanpa kehilangan akar,” pungkas Prof. Hamdanah.