KH Muhammad Sulaiman (1948–2024), demikian nama lengkap beliau. Bagi warga yang seusia dengan beliau, tidak sedikit yang memanggilnya Pak Leha. Panggilan itu diambil dari nama putri pertamanya, Siti Sulaeha (lahir 1971). Putri keduanya bernama Siti Fatimatus Zahra (lahir 1975), sedangkan putri ketiganya bernama Siti Komariyah (lahir 1981).
Namun, bagi kami, santri milenial yang lahir pada tahun 1980-an, beliau lebih akrab dipanggil Lek Sleman. Sebuah panggilan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan keakraban yang dalam. “Lek” adalah sapaan yang biasa kita gunakan untuk memanggil seorang paman.
Sapaan itu membuat jarak antara guru dan santri terasa begitu dekat. Tidak ada sekat yang kaku. Kami bisa merasa dekat dengan beliau, meski tetap tahu diri bahwa beliau adalah guru ngaji kami. Sebab, dalam kedekatan itu, tetap ada adab. Setiap selesai mengaji, misalnya, kami tetap melakukan ikuman menyalami guru sembari mencium tangannya.
Dari kebiasaan kecil semacam itulah, kami belajar bahwa dekat dengan guru bukan berarti kehilangan rasa hormat. Justru, semakin dekat, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang harus tetap dijaga: adab, takzim, dan kepatuhan kepada guru.
Santri Kinasih Kiai Halila
Kiai Sulaiman mengawali pembelajaran Al-Qur'an dari dapur rumahnya. Letaknya di sebelah timur, yang kini telah dibangun rumah Ustaz Basuki Rahmad, menantu pertamanya. Sungguh, sebuah permulaan yang sangat sederhana, tetapi penuh makna. Sebab, dari situlah sebuah khidmah dimulai. Beliau bersama sang istri, Nyai Siti Kutsiana, putri H. Abdullah yang akrab disapa Pak Hari, berjibaku menata moral warga di lingkungan Nangkaan Utara, tanah kelahiran saya.
Kiai Sulaiman sendiri berasal dari Dusun Jatian, Desa Koncer Kidul. Masa kecil dan masa belajarnya dihabiskan di Pesantren Al-Was'ush Shadri, yang diasuh oleh Kiai Muhammad Halila. Saya tidak tahu persis berapa lama beliau mondok di pesantren yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Debesah itu, karena terletak di Gang Pesantren Dabasah. Namun, dari berbagai kisah yang pernah kami dengar, beliau termasuk salah satu santri kinasih Kiai Halila.
Setidaknya, jejak itu terasa dari cara beliau mengaji dan menyampaikan ilmu. Beliau seperti kitab yang berjalan. Dalam banyak kesempatan, ketika memberikan ceramah atau mauidah hasanah, ayat Al-Qur'an, hadis Nabi, serta dalil dari berbagai kitab kuning hampir selalu hadir dalam tutur katanya. Teks-teks itu seakan telah menyatu dalam ingatan Kiai Sulaiman.
Saya masih ingat ketika beliau menjabat sebagai Rais Syuriah MWC NU Kota. Menjelang pelaksanaan Konferensi MWC NU Kota, beliau menyampaikan khutbah iftitah dengan mengutip salam yang pernah disampaikan Baginda Nabi Muhammad SAW. Kutipannya tidak panjang, tetapi beliau menguraikannya dengan penuh makna.
Hal itu tentu saja mengundang kekaguman Kiai Junaidi Mu'thi, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Bondowoso kala itu. Saya masih ingat, kurang lebih begini pujian beliau: “Itu kalau Kiai Sulaiman, Rais Syuriah MWC Kota. Salam saja bisa menjadi sambutan yang cukup panjang,” ucapnya di hadapan pengurus MWC NU Kecamatan Bondowoso.
Saya tersenyum ketika mengingatnya. Beliau tidak perlu banyak kata untuk membuat orang merasakan kedalaman makna dari setiap dawuhnya. Kealiman ini tentu tidak datang tiba-tiba. Ada proses panjang dalam mengaji, ketekunan, serta doa guru dan orang tua. Dan—barangkali—ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kita jelaskan dengan logika.
Di kalangan santri Gang Pesantren Dabasah, beredar kisah bahwa Kiai Sulaiman pernah mengalami sesuatu yang cukup ekstrem dalam proses pendidikannya sebagai santri. Namun, dengan hati ikhlas, beliau menerima apa yang disampaikan dan dilakukan oleh sang guru. Tidak ada keluhan, sebagaimana yang kerap kita jumpai pada sebagian anak didik masa kini bersama orang tua mereka ketika mendapatkan sanksi atau sekadar jeweran dan cubitan dari gurunya.
“Waktu itu pondok masih menggunakan bilik bambu, jadi semua bisa terlihat dan terdengar dari luar. Kiai yang mendengar santri ramai tentu saja marah. Akhirnya, Bapak yang dipanggil. Padahal, bukan Bapak pelakunya. Tapi Bapak menerima dengan lapang dada meski dimarahi. Bahasa santrinya itu, e-dukanih,” kenang Zahra, mengingat cerita sang ayah.
Zahra juga bercerita bahwa setiap malam, Kiai Sulaiman selalu dibangunkan oleh Kiai Halila untuk mengaji kitab. “Hanya Bapak yang dibangunkan, santri lainnya tidak diajak mengaji,” kenang Zahra.
Perjalanan hidup Kiai Sulaiman kemudian membawa beliau menjadi tokoh masyarakat. Beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Bondowoso. Bahkan, hingga akhir hayatnya, beliau masih tercatat sebagai pengurus MWC NU Kota. KH Muhammad Sulaiman meninggal dunia pada Jumat siang, 11 Oktober 2024.
Menurut Dr. KH. Matkur Dzamiri, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kota, sejatinya Kiai Sulaiman tetap menjadi Rais Syuriah. Hanya karena kondisi kesehatan, beliau meminta agar amanah tersebut dijalankan oleh kiai yang lain. Posisi itu kemudian dilanjutkan oleh Kiai Taufiq dari Gang Purbo.
Dari perjalanan ini, kita memahami bahwa ada orang yang mungkin berpindah jabatan dan melepaskan status sosialnya. Namun, ada pula orang yang tetap menjadi guru, bahkan ketika jabatan formalnya telah dilepas. Kiai Sulaiman, bagi saya, termasuk yang kedua. Sebab, hingga akhir hayatnya, beliau tetap dikenang sebagai seorang guru sekaligus terus berkhidmah sebagai pengurus NU.
Keistiqamahan Kiai Sulaiman
Kadang saya berpikir, jangan-jangan Kiai Sulaiman memang sengaja “ditanam” oleh gurunya di lingkungan Nangkaan. Sebab, jauh sebelum Kiai Sulaiman wafat, beliau pernah bercerita kepada saya tentang sang guru, yang juga guru saya, Kiai Halila. Ternyata, sekitar satu bulan menjelang wafatnya Kiai Halila, beliau beberapa kali berkunjung ke kediaman Kiai Sulaiman.
Saya tidak tahu pasti apa maksud dari kunjungan-kunjungan tersebut. Apakah sebuah pertanda? Apakah sekadar silaturahim seorang guru kepada santrinya? Atau, ada sesuatu yang lebih dalam yang baru bisa kita pahami setelah semuanya berlalu? Wallahu a'lam.
Namun, menurut Kiai Sulaiman, mungkin saja kehadiran gurunya itu menjadi semacam isyarat bahwa “cahaya” Pesantren Dabasah akan mengalir ke tempat ini, yakni Masjid Nurul Hidayah yang didirikannya. Meskipun bentuk pembelajarannya tidak persis sama, ruhnya terasa serupa. Ada pengajian kitab setiap Rabu sore dan Kamis sore di masjid yang kala itu diasuh oleh Kiai Sulaiman. Ada pembacaan Diba'iyah setiap malam Selasa. Dan, tentu saja, ada pembelajaran Al-Qur'an yang berlangsung hampir setiap malam, serta tilawah atau qiraah setiap Ahad pagi.
Masjid Nurul Hidayah ini, yang di luar lebih dikenal dengan nama Masjid Kiai Sulaiman, perlahan menjadi semacam perpanjangan tangan pesantren, kira-kira begitu yang saya pahami. Bukan pesantren dalam bentuk bangunan dan sistem yang sama, melainkan pesantren dalam semangatnya: mengaji, berjamaah, menghormati guru, dan menjaga tradisi keilmuan.
Saya kemudian teringat sebuah kisah yang cukup masyhur tentang Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy'ari. Menjelang wafatnya, Kiai Kholil disebut berkunjung kepada santri kinasihnya, Kiai Hasyim. Bahkan, beliau juga mengikuti pengajian kitab hadis Bukhari-Muslim di Tebuireng. Kisah ini seakan menjadi sinyal bahwa Kiai Hasyim adalah pewaris kekeramatan Kiai Kholil Bangkalan (Wahyudi, 2024: 88).
Apakah kisah Kiai Sulaiman yang dikunjungi Kiai Halila menjelang wafatnya memiliki makna serupa? Saya tidak berani mengatakan demikian. Saya hanya menyimpan cerita itu sebagai sebuah kenangan, karena disampaikan langsung oleh Kiai Sulaiman kepada saya.
Tulisan ini pun merupakan bagian dari “bunga” utang janji saya kepada beliau. Sebab, beberapa tahun menjelang wafatnya, saya pernah mengungkapkan keinginan untuk menuliskan ceramah dan pemikiran beliau. Hampir setiap Ramadan, selama satu bulan penuh, beliau mengisi kultum seusai salat Tarawih.
Dalam kesempatan lain, Kiai Sulaiman juga pernah bercerita kepada saya bahwa Kiai Halila pernah menyampaikan keinginannya untuk “menanam sesuatu”. Dalam bahasa Madura, beliau mengatakan, “Engkok tero nyabe-eh men-tamenan e-dinnak.” Artinya kurang lebih, “Saya ingin menanam sesuatu di sini.”
Saya masih mengingat kalimat itu. Menurut Kiai Sulaiman kepada saya waktu itu, mungkin maksudnya adalah bahwa masjid ini kelak akan bersinar sebagaimana Pesantren Dabasah. Sebab, Kiai Sulaiman merupakan santri Kiai Halila di Pesantren Dabasah. Sementara itu, menantunya, Ustaz Yapan, yang juga mengajar di Masjid Nurul Hidayah kala itu, merupakan salah satu santri kinasih Kiai Halila di pesantren yang sama.
Namun, ada satu hal yang tidak perlu saya tafsirkan. Saya melihatnya sendiri dan mengalaminya secara langsung: keistiqamahan Kiai Sulaiman dalam menjaga salat berjamaah lima waktu. Di masjid itu, nyaris selalu terdengar suara khas beliau yang mengalun. Suara seorang imam yang sudah begitu akrab di telinga para jamaah dan masyarakat sekitar.
Setiap kali mendengarnya, entah mengapa, saya selalu teringat Pesantren Al-Was'ush Shadri. Di sana, dahulu, suara Kiai Halila juga terdengar saat menjadi imam salat berjamaah di musala pesantren. Mungkin, memang begitulah cara sebuah ilmu dan tradisi diwariskan. Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang sepanjang waktu, oleh orang yang berbeda. Wallahu a'lam.
Penulis: H. Andiono Putra, alumni Pesantren Al-Was'ush Shadri, kini berkhidmah sebagai Ketua PC LAZISNU Bondowoso.