Mengaji Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Upaya Transfer Pemikiran dan Etika Zaman Nabi ke Era Digital.
Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya arus informasi, satu hal yang masih tetap menjadi pegangan bagi sebagian umat adalah majelis pengajian kitab kuning. Tradisi ini bukan hanya sekadar rutinitas keagamaan, melainkan ruang dialektika antara pemikiran ulama klasik dan kondisi zaman modern. Salah satu yang aktif menghidupkan tradisi ini adalah Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, yang dalam salah satu pengajiannya mengkaji kitab Risalah al-Mu’awanah karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad—sebuah karya monumental yang sarat dengan nilai-nilai akhlak dan spiritualitas Islam.
“Mengaji kitab hakekatnya adalah mentransfer ide atau pemikiran sang muallif kepada jamaah, dengan sedikit interpretasi dari si pembacanya,” ujar Dr. Ash-Shiddiqy dalam salah satu sesi pengajiannya. Pernyataan ini seakan menegaskan bahwa pengajian bukanlah ruang dogma, melainkan proses intelektual yang hidup. Dalam proses ini, ulama dan jamaah berdialog dengan pemikiran para ulama terdahulu, lalu mengaitkannya dengan konteks kekinian, tanpa mengurangi rasa hormat pada sang penulis kitab.
Mengaji Kitab dalam Era Teknologi: Relevansi dan Tantangannya
Di era di mana masyarakat bisa mendapatkan informasi agama lewat YouTube, TikTok, atau podcast dakwah, pengajian kitab kuning secara langsung tetap memiliki tempat tersendiri. Bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tapi juga karena ada sesuatu yang tak bisa digantikan oleh algoritma: keintiman sanad keilmuan dan kekhusyukan adab dalam mencari ilmu.
Dr. Ash-Shiddiqy mengingatkan, mengaji bukan sekadar mendengarkan isi kitab, melainkan menghidupkan nilai dan hikmah dari setiap lembaran yang dibaca. Bahkan, menurutnya, interpretasi menjadi bagian penting dari proses itu—penjelasan kalimat, penambahan contoh, hingga perbandingan dengan kondisi zaman sekarang adalah cara untuk membuat ilmu itu hidup dan relevan.
Misalnya, dalam kajian kitab Risalah al-Mu’awanah, Dr. Ash-Shiddiqy mengangkat satu pembahasan penting: larangan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) dan ghibah (mengumbar aib sesama muslim). Dulu, larangan ini mungkin relevan dalam konteks pergaulan desa atau pasar. Namun kini, dengan kehadiran media sosial, bentuk tajassus dan ghibah justru semakin masif dan sistematis.
“Banyak orang sekarang begitu kepo dengan rumah tangga orang lain, ngintip story Instagram, scroll komentar orang hanya untuk mencari drama, bahkan membaca tulisan atau kitab orang lain dengan niat bukan untuk mengambil faedah, tapi mencari celah kesalahan,” tutur beliau dengan nada prihatin.
Ketika Tajassus Bertransformasi dalam Bentuk Digital
Fenomena ini menjadi semakin nyata di era digital. Tajassus tidak lagi membutuhkan telinga yang menguping atau mata yang mengintip secara langsung. Cukup lewat akun palsu, screenshot status, atau rekaman diam-diam, seseorang bisa mengorek kehidupan pribadi orang lain dengan sangat mudah. Bahkan lebih parah lagi, hasil “tajassus digital” ini kemudian disebarkan, dijadikan bahan ghibah, atau bahkan bahan lelucon di ruang publik virtual.
Pengajian seperti yang dilakukan Dr. Ash-Shiddiqy ini menjadi sangat relevan, karena tidak hanya membahas larangan dalam teks, tetapi mengajak jamaah untuk merenungkan bagaimana teks itu bekerja di tengah realitas zaman yang serba canggih. Di sinilah pentingnya interpretasi dari pembaca kitab: bukan untuk mengganti maksud muallif, tetapi justru untuk menghidupkan pesan moralnya di era yang berbeda.
Teknologi Canggih: Pisau Bermata Dua
Zaman sekarang menyediakan segalanya dalam genggaman. Mau tahu isi rumah orang, cukup buka vlog. Mau tahu aib selebriti, cukup baca komentar netizen. Tapi ironisnya, semua itu justru menjauhkan manusia dari adab. Bukan berarti teknologi harus ditolak, tapi kita harus bijak menempatkan diri.
Di sinilah kitab seperti Risalah al-Mu’awanah dan para pengajarnya memainkan peran penting. Mereka bukan hanya menyampaikan isi kitab, tapi juga membimbing bagaimana umat bersikap di tengah kebingungan moral zaman modern.
Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Ash-Shiddiqy, banyak yang membaca kitab bukan untuk belajar, tetapi untuk mencari cela. “Sungguh mengerikan hidup di zaman akhir ini,” katanya lirih. Ucapan ini bukan semata pesimisme, tetapi refleksi dari realita yang dihadapi para pengajar agama saat ini.
Kebutuhan Akan Kembali ke Tradisi Ilmu yang Penuh Adab
Majelis ilmu yang mengkaji kitab klasik tak akan pernah usang. Justru di zaman yang serba cepat dan dangkal ini, pengajian kitab menjadi titik balik menuju kedalaman makna. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya untuk dikejar, tapi untuk diresapi dan diamalkan. Bahwa adab lebih tinggi dari sekadar kepintaran berbicara atau menulis.
Generasi hari ini butuh ruang untuk merenung, bukan hanya bereaksi. Butuh ilmu yang membimbing, bukan sekadar informasi yang membanjiri. Kitab seperti Risalah al-Mu’awanah mengajarkan hal-hal mendasar yang sering kita lupakan: menjaga lisan, menyimpan rahasia, tidak mengintip aib saudara. Sementara teknologi mendorong kita untuk membuka segalanya, tradisi pengajian kitab mengajak kita untuk menutup sebagian demi menjaga kemuliaan.
Akhirnya, Di Mana Kita Berdiri?
Pertanyaan penting bagi kita semua: di tengah dunia yang begitu bising ini, apakah kita masih menyediakan waktu untuk duduk, diam, dan mendengarkan pesan hikmah dari para ulama dan kitab mereka?
Seperti kata pepatah Arab, “Ilmu tanpa adab, bagaikan api tanpa kayu bakar.” Dan majelis seperti yang dipimpin oleh Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy adalah salah satu upaya untuk menyalakan kembali api itu—dengan kayu bakar tradisi, adab, dan kesadaran akan realitas zaman.
Pengajian kitab bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita menjalani masa depan dengan lebih bijak. Karena teknologi akan terus berubah, tapi nilai akan selalu abadi.
Selamat datang di zaman canggih, di mana kembali ke kitab justru menjadi langkah paling futuristik. []