KH. Hasan Abdul Wafi adalah salah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Beliau pencipta shalawat Nahdliyyah yang viral pada tahun-tahun belakangan ini.
Selama hidupnya, beliau pernah mengabdikan diri di Nahdlatul Ulama dengan menjabat Rais Syuriyah PCNU Kraksaan. Beliau memiliki 12 putera-puteri, salah satunya adalah KH. Kholilurrahman, yang tengah menjabat sebagai bupati Pamekasan periode 2025 – 2030.
Dalam suatu kesempatan, Kiai Kholil panggilan sehari-hari beliau bercerita bahwa Abah beliau, yaitu Kiai Hasan Abdul Wafi, menerapkan beberapa kebiasaan untuk keluarganya, salah satunya adalah memakai songkok saat makan bersama. Dalam tradisi Madura, memakai songkok adalah bentuk penghormatan dan kesopanan.
Pernah suatu hari Kiai Kholil tidak mengenakan songkok saat makan bersama, Kiai Hasan langsung memberi teguran. Menurut Kiai Hasan, mengenakan songkok saat memakan nasi adalah bentuk penghormatan serta penghargaan kita atas upaya dan jerih payah petani untuk menghadirkan nasi di atas piring kita.
Prosesnya dimulai dari menanam padi, merawatnya, memanen, hingga mengolahnya menjadi beras dan akhirnya menjadi nasi yang siap disantap. Setiap tahapan membutuhkan kerja keras, waktu, dan pengetahuan yang tidak sedikit.
Itulah bentuk penghargaan luar biasa atas jerih payah petani. yang diajarkan oleh Kiai Hasan Abdul Wafi. Dalam konteks ini, salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan cara menghabiskan buliran nasi tanpa sisa di piring kita.
Sebab, menyisakan makanan di piring kita merupakan salah satu bentuk iḍā‘atu al-māl (menyia-nyiakan harta). Oleh karena itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk selalu memakan apa yang sudah diambil:
إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambilah kembali! Lalu buanglah bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan setan.”
Wallahu a’lam