Situbondo – Dukungan terhadap gagasan menjadikan Sukorejo sebagai desa adat terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy menilai langkah tersebut sebagai upaya penting untuk memperkuat identitas kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan, budaya, dan tradisi pesantren.
Ketua BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy, Abdul Halim, menyampaikan bahwa Sukorejo memiliki modal sosial dan historis yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai desa adat.
Menurutnya, keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan budaya masyarakat yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
“Sukorejo memiliki kekhasan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Di sini terdapat warisan pesantren, tradisi keagamaan, serta nilai-nilai sosial yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep desa adat dapat menjadi instrumen untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai tersebut agar tetap hidup di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Selain itu, keberadaan desa adat juga dinilai mampu memperkuat posisi Sukorejo sebagai kawasan yang memiliki karakter budaya dan religius yang khas.
Abdul Halim menilai, selama ini Sukorejo telah dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak tokoh agama, akademisi, dan pemimpin masyarakat di berbagai daerah.
Karena itu, menurutnya, identitas tersebut perlu mendapat perlindungan dan penguatan melalui kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya lokal.
“Desa adat bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Ini penting agar generasi mendatang tetap mengenal akar sejarah dan budayanya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan daerah seharusnya tidak mengabaikan aspek kebudayaan. Kemajuan fisik dan ekonomi perlu berjalan berdampingan dengan upaya merawat identitas sosial masyarakat.
BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy berharap proses pembentukan desa adat nantinya dilakukan secara inklusif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pemerintah, hingga kalangan pemuda dinilai perlu terlibat agar konsep desa adat yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sukorejo.
“Kami berharap semua pihak dilibatkan sehingga desa adat bukan hanya menjadi kebijakan formal, tetapi benar-benar menjadi ruang bersama untuk merawat warisan pesantren dan budaya lokal,” ungkapnya.
Menurut Abdul Halim, apabila dikelola dengan baik, desa adat Sukorejo dapat menjadi model pelestarian budaya pesantren yang mampu mengintegrasikan nilai tradisi, pendidikan, dan pembangunan secara berkelanjutan.
“Harapan kami, Sukorejo ke depan semakin dikenal bukan hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai kawasan yang berhasil menjaga warisan budaya dan peradaban pesantren di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. []