Press ESC to close

Tahun Masehi dan Tahun Hijriyah

Di antara tanda-tanda kiamat adalah ketika orang-orang sangat berpegangan pada penanggalan masehi, padahal kata Allah:

يَسـَٔلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُل هِىَ مَوٰقيتُ لِلنّاسِ وَالحَجِّ

[البقرة: 189]

“Mereja bertanya kepadamu tentang bulan sabit (prosesinya). Katakanlah (dengan jawaban yg lebih penting dari itu) ia adalah tanda-tanda waktu untuk manusia dan haji”

Hijriyah ikut qamariyah karena berdasar rembulan, sedangkan masehi adalah syamsiyah karena berdasarkan matahari.

Jadi waktu standar menurut Islam adalah qamariyah, ikut bulan, seperti kalender Islam. Tapi ternyata orang-orang sudah tidak begitu. Acara berpatokan pada tanggal masehi, umur dihitung tahun masehi, janji ditetapkan juga dengan tahun masehi. Tahun hijriyah dikesampingkan, tidak terasa sudah tahun baru hijriyah, tanpa ada ingatan dan kesan khusus layaknya menjelang tahun baru masehi.

Hanya saja untungnya masih banyak yang mengingatkan doa awal tahun dan akhir tahun, masih banyak yang memperingatinya dengan berbagai kegiatan bermanfaat. Dan untungnya juga, hijriyah tetap menjadi patokan untuk waktu-waktu urusan akhirat, sedangkan masehi adalah tahun patokan untuk urusan duniawi saja, tak lebih. Alhamdulillah orang Islam tetap peduli terhadap agamanya.

Kerennya, selanjutnya ayat itu menyebutkan وَالْحَجِّ. Di mana-mana orang pergi haji pasti yang diingat adalah tahun masehinya. “Saya dulu tahun 2008 pergi haji. Anda haji tahun berapa? Tahun 2015” dan seterusnya.

Padahal kalimat “wal-hajj” ini didempetkan dengan “hiya mawaqiit linnas”, sedangkan di mana-mana kebanyakan orang sudah lupa tahun berapa hijriyah dia haji, tidak tahun masehi.

Ini Alqur’an. Kalau dunia sudah tidak seperti kaidah-kaidah Alqur’an, berarti ini tanda dekatnya akhir zaman, karena Alquran satu-persatu hukumnya akan dianggurkan, seperti sabda Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam:

لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

صدق الله العظيم وصدق رسوله الكريم ونحن على ذلك من الشاهدين

*Keterangan ngaji tafsir Ahadan Syaikhina al-Allamah Maimoen Zubair rahimahullah

قال شيخنا العلامة ميمون زبير رحمه الله: من اشراط الساعة ان الناس يعتمدون في المواقيت على الشمس وقد قال تعالى: يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج. فلا يعرفون سنة حججهم الا على السنة الشمسية. فلهذا تعتبر السنة الشمسية بمواقيت دنيوية واما القمرية فمواقيت اخراوية فان الحج ورمضان والعيد فيها لا في الشمسية

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Ketika Kiai Ahmad Basyir AS menafsirkan Q.S. Al-Mu’minun 1-3
Dari Toleransi ke Akomodasi: Langkah Nyata Menghidupkan Keberagaman Tradisi
Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.