Ketahanan keluarga masih menjadi isu kompleks yang diperbincangkan di Indonesia. Terlebih di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) seperti saat ini yang mana ketahanan keluarga mengalami tantangan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemerosotan ekonomi yang mengakibatkan melemahnya ketahanan keluarga yang berujung kepada perceraian.
Di tengah maraknya konten media sosial yang menampilkan kisah sukses pasangan muda, muncul sebuah pernyataan bahwa “Kuliah itu kalau bisa dibilang scam” Pernyataan ini memantik diskusi yang menarik
Bentuk kejahatan siber yang paling dominan dan berdampak luas adalah penipuan daring (online scams) — termasuk investasi bodong, phishing, impersonasi digital, dan berbagai modus lain yang merugikan individu serta institusi secara signifikan.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi, obligasi menjadi salah satu pilihan yang mulai banyak dilirik. Namun, bagaimana posisi instrumen ini jika ditinjau dari sudut pandang syariah?
Beberapa waktu terakhir, media sosial kembali diramaikan dengan munculnya berita mengenai habib “palsu”. Topik ini dengan cepat menyulap ruang digital dari grup WhatsApp keluarga yang biasanya hanya berisi ucapan selamat pagi, sampai grup pertemanan yang selalu siap memanas begitu ada isu baru.
Setiap tanggal 18 Desember, dunia memperingati Hari Bahasa Arab Sedunia. Namun bagi banyak orang—bahkan di negeri-negeri Muslim—peringatan ini sering berhenti pada seremoni simbolik: lomba pidato, pembacaan puisi, atau unggahan media sosial bernuansa romantisme bahasa. Jarang kita bertanya lebih jauh: apa makna strategis bahasa Arab di dunia akademik kontemporer? Dan lebih jarang lagi kita belajar
Media sosial saat ini telah menjadi ruang baru bagi penyebaran ilmu agama. Melalui media sosial, sangat mudah untuk menemukan ribuan pendakwah, guru agama atau influencer Islami dengan berbagai konten ceramah yang beragam, baik itu berupa motivasi atau langsung masuk ke diskusi keagamaan.
pengaruh reformasi Nabi Muhammad SAW. betul-betul mengguncang dunia, dan dengan waktu yang relatif singkat (kurang lebih 23 tahun) mampu mewujudkan masyarakat ideal, masyarakat yang sosiologis berada dalam kelas kesejajaran atau “masyarakat tanpa kelas”