Groningen, Belanda — Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Eropa menegaskan komitmennya untuk mempromosikan ajaran Islam yang moderat, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, para salafus shalih, dan ulama-ulama besar Nahdlatul Ulama. Dalam Deklarasi PCINU Summit Eropa 2025 yang digelar di Groningen pada 2 Oktober 2025, para pimpinan PCINU menekankan pentingnya nilai tawasuth (moderasi), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), i‘tidal (keadilan), serta amar ma‘ruf nahi munkar sebagai pedoman hidup beragama dan bermasyarakat.
Deklarasi tersebut menegaskan bahwa Islam harus menjadi sumber kasih sayang dan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, PCINU Eropa berkomitmen untuk terus mengembangkan pendekatan Islam yang selaras dengan budaya lokal di setiap negara tempat cabang NU berada. Pendekatan ini diyakini akan mampu memperkuat harmoni sosial, mempererat persaudaraan antarumat beragama, serta memperkuat kontribusi umat Islam terhadap masyarakat global.
Dalam pernyataannya, PCINU Eropa menegaskan tanggung jawab moral untuk menghormati martabat setiap manusia tanpa memandang agama, ras, gender, kebangsaan, maupun orientasi politik. Setiap orang berhak hidup damai tanpa intimidasi, diskriminasi, atau kekerasan. Oleh karena itu, PCINU menyerukan pentingnya praktik saling menghormati, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan empati antar komunitas dunia.
Deklarasi ini juga menyoroti berbagai tantangan kemanusiaan global seperti kemiskinan, kelaparan, menurunnya kepercayaan terhadap lembaga publik, serta meningkatnya kesenjangan sosial. PCINU Eropa menyatakan solidaritas terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan, termasuk komunitas yang hidup di bawah penjajahan atau ketidakadilan sistemik. Dengan tegas, mereka berdiri untuk prinsip universal kemanusiaan: martabat, kesetaraan, dan kebebasan.
Sebagai bagian dari kehadirannya di Eropa, PCINU bertekad memperkuat keterlibatan konstruktif dengan masyarakat setempat melalui dialog antarbudaya, riset kolaboratif, pertukaran akademik, dan kegiatan kemasyarakatan. Melalui langkah-langkah ini, PCINU berupaya berkontribusi bagi terciptanya masyarakat yang inklusif, di mana berbagai tradisi dapat hidup berdampingan dalam damai. Prinsip Humanitarian Islam diusung sebagai inspirasi bahwa agama dapat menjadi kekuatan untuk solidaritas, keadilan, dan rekonsiliasi.
Selain fokus pada isu kemanusiaan, PCINU Eropa juga menegaskan tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup. Deklarasi menolak praktik eksploitasi sumber daya alam yang merusak bumi dan menegaskan bahwa menjaga alam adalah amanah moral dan religius yang penting untuk masa depan generasi mendatang.
Acara PCINU Summit Eropa yang digelar bersamaan dengan Biennial International Conference PCINU Belanda ini dihadiri oleh delegasi dari PCINU Belanda, Inggris Raya, Jerman, dan Belgia, serta perwakilan dari PCINU Mesir, PCINU Jepang, dan sejumlah lembaga dan badan otonom NU dari Indonesia. Nyai Alissa Wahid hadir sebagai pembicara pengantar. Para ketua PCINU Eropa menegaskan bahwa organisasi ini bukan sekadar wadah diaspora Muslim Indonesia, tetapi gerakan global yang berperan aktif dalam perdamaian, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.