Press ESC to close

Jangan Beputus Asa atas Rahmat-Nya!

Saat ini kita melihat menemui beberapa orang di media sosial yang suka menjustifikasi ibadah seseorang. Masih ditemui juga seseorang yang yang masih mengkafirkan orang lain karena amalan ibadahnya tidak sama, seolah-olah amalan ibadah dialah yang paling benar. Dan amalan ibadah orang lain ia anggap sia-sia. Tidak hanya itu, masih ada seseorang yang menghitung-hitung kebanyakan amalnya dibanding amal orang lain. Perilaku seperti ini sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw., dalam hadisnya beliau bersaabda:

عن ابن مسعود رضي االله تعالى عنه قال قال رسول االله صلى االله تعالى عليه وسلم الفاجر الراجى رحمة االله تعالى أقرب إلى االله تعالى من العابد المقنط

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang pendosa yang mengharapkan rahmat Allah Swt. lebih dekat kepada-Nya dari pada seorang ahli ibadah yang putus asa dari rahmat-Nya.’”

Sebabmu, Mereka Berpikir Rahmat-Ku Terbatas

            Berkaca pada beberapa cerita bahwa pada suatu ketika ada seorang yang hidup dengan selalu melakukan ibadah, bahkan ia membebankan dirinya untuk melakukan ibadah tanpa henti. Ia menjustifikasi orang-orang yang tidak beribadah seperti dia dan mereka menjadi putus asa karena orang tersebut. Kemudian ia meninggal dunia, dan bertemu dengan Allah. 

Orang tersebut kemudian menghadap dengan penuh kepercayaan diri, berbekal segala ibadah yang telah ia lakukan semasa hidupnya di dunia, ia bertanya pada Allah, “Ya Tuhanku, apa yang kudapatkan di sisi-Mu?” Allah menjawab, “Neraka.” Orang tersebut kaget mendengar jawaban, ia merasa tidak mendapat apa yang diharapkan. Lalu ia bertanya lagi, “Ya Tuhanku! Lantas bagaimana segala kesungguhanku dalam beribadah?.” Maka, Allah memandangnya sambil menjawab, “Kamu membuat orang-orang putus asa dari rahmat-Ku, maka kali ini kubuat engkau putus asa dengan rahmat-Ku.”

Bahkan Dosamu Tak Seberapa dengan Rahmat-Ku

            Diceritakan juga di satu kisah yang di zaman yang berbeda bahwa ada seorang yang bahkan tak memiliki amal sama sekali dalam hidupnya, namun ia memiliki ketauhidan kepada Allah Swt. di dalam dirinya . Ketika ajal mau menjemput dirinya, ia berwasiat kepada keluarganya untuk membakar tubuhnya dan membuangnya ke laut di musim angin saat dirinya telah mati nantinya.

            Kemudian keluarganya, melakukan seperti apa yang ia wasiatkan. Hingga tatkala ia telah wafat, bertemulah dirinya dengan Tuhannya. Allah Swt. bertanya padanya, “Apa alasanmu berwasiat seperti demikian?.” Dihadapan Allah, ia menjawab “Aku melakukan itu, karena takut kepada-Mu.” Mendengarnya apa yang diucapkan oleh laki-laki itu, Allah jadi mengampuninya disebabkan rasa takut kepada diri-Nya itu. Padahal ia tidak memiliki amal sama sekali kecuali tauhid kepada Allah Swt..

Rahmat-Ku, Dimanapun Itu

            Terdapat cerita juga mengenai rahmat Allah Swt. kepada hambanya. Dalam satu kisah yang lain, tepatnya pada masa nabi Musa a.s. ada seseorang fasik yang meninggal dunia. Sampai-sampai orang di sekitarnya enggan untuk memandikan, dan menguburkan jenazahnya karena kefasikan yang telah ia lakukan. Kemudian mereka membuang mayat lelaki itu ke tempat yang penuh kotoran.

            Hingga suatu ketika, nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah untuk memandikan, mengkafani, juga menguburkan jenazahnya. Maka tanpa banyak protes beliau langsung datang menghampiri kampung seorang itu wafat. Saat sampai disana, Musa a.s. meminta tolong kepada warga untuk mengantarkan ke tempat lelaki itu.

            Kemudain diantarlah nabi Musa a.s. dan betapa kagetnta ketika ia menemukan jenazah lelaki tersebutdi tempat yang penuh kotoran. Nabi Musa a.s. bertanya kepada penduduk mengenai apa yang telah dilakukannya semasa hidup sehingga berakhir seperti ini. Lalu, para penduduk mengatakan satu-persatu tentang kefasikan apa saja yang telah dilakukan lelaki itu. 

Mendengar cerita para penduduk beliau terkejut dan langsung bermunajat kepada Allah tentang apa yang barusan ia dengar. Nabi Musa a.s. berkata “Ya Allah! Bukankah kau perintahkan diriku untuk mengubur dan mensalati jenazah ini? Namun, barusan aku mendengar kesaksian orang atas keburukannya, engkau adalah Dzat yang lebih mengetahui tentangnya perihal memuji dan merendahkan.”

            Maka, jawab Allah, “Hai nabi Musa a.s.! Benar apa yang penduduk itu katakan, hanya saja lelaki itu meminta ampunan ketika waktu ajal menjemputnya dan merayu-Ku dengan tiga hal yang bilamana pendosa manapun merayu demikian, maka aku akan memberikannya. Aku adalah Dzat yang Maha Mengasihi, lantas bagaimana mungkin tak Aku kasihi dirinya?.”

            Kemudian, nabi Musa a.s. bertanya tentang tiga hal apa yang ia minta. Allah menjelaskan, “Ketika ajalnya dekat, ia berkata “1). Ya Allah! Engkau Maha Tahu tentang hatiku, sesungguhnya aku bersedih hati juga membenci ketika melakukan kemaksiatan itu, tapi tiga hal yang buatku berani melakukannya adalah hawa nafsu, teman yang buruk, dan iblis. Sesungguhnya engkau Maha Tahu tentang itu, oleh karenanya ampunilah aku. 2). Ya Allah sesungguhnya engkau mengetahui bahwa kali itu aku melakukan kefasikan bersama orang-orang yang fasik pula, akan tetapi aku lebih senang berteman dengan orang-orang saleh. Posisi yang lebih kusukai adalah bersama mereka ketimbang orang-orang fasik itu. 3). Ya Allah! Sesungguhnya engkau mengetahui bahwa aku lebih suka mendahulukan kepentingan orang-orang saleh itu ketimbang orang-orang fasik, maka dari itu ampunilah aku!’

            Dalam riwayat lain, orang tersebut mengatakan “Ya Allah! Andai engkau memaafkanku maka para nabi-Mu dan wali-Mu akan senang dan para setan akan akan bersedih. Apabila engkau menyiksaku, maka para nabi dan wali-Mu akan bersedih, lalu para setan akan bersenang-senang. Oleh karena itu ampunilah aku Ya Allah!

            “Karena itulah Aku telah mengasihinya ya Musa a.s., Aku adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang terutama kepada hamba-Ku yang mau mengakui dosanya didepan-Ku. Jadi barang siapa mau memandikan, mengkafani juga menguburkan jenazahnya dengan layak maka aku akan mengampuni dosa-dosanya, lakukanlah perintahku, maka akan aku ampuni kalian melalui perantara kemuliaan lelaki itu.”

Mendengar perintah tersebut, nabi Musa a.s. mengajak penduduk untuk memandikan, mengkafani, mensalati, dan menguburkan orang tersebut. Dan Allah pun mengampuni segala kesalahan penduduk tersebut. Wallahu a’lam

Ditulis oleh: Dimas Bima Sofyanto (Santri Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam Jombang)

Santri Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam Jombang

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Samudra Rahmat Kasih Sang Pencipta
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.