Press ESC to close

Halaman Manuskrip yang Memuat Daftar Kiyai-Kiyai di Manonjaya (Tasikmalaya, Jawa Barat) dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda-Jawa-Madura-Makkah di Abad ke-19

Manuskrip tersebut berasal dari tahun 1889 (saat ini sudah berusia 133 tahun), bagian dari catatan perjalanan Snouck Hurgronje ke pesantren-pesantren tua di Sunda dan Jawa pada akhir abad ke-19 M.

Saat ini, manuskrip catatan perjalanan Snouck tersebut tersimpan sebagai koleksi khusus (special collection) di Perpustakaan Universitas Leiden (UB Leiden) Belanda.

Pada pertengahan bulan Juni lalu, saya sempat mengunjungi UB Leiden dan membuka-buka manuskrip penting tersebut.

Di manuskrip ini termuat bukan hanya informasi nama-nama Kiyai di Manonjaya pada akhir abad ke-19 M, tetapi juga jaringan keilmuan dan genealogi intelektualnya yang menghubungkan tradisi keilmuan di Manonjaya dengan wilayah Sunda lainnya, termasuk dengan wilayah Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo dan Madura) serta dengan kota suci Makkah.

Nama-nama Kiyai di Manonjaya yang disebut di sana, antara lain:

1. Kiyai Muhammad Mansur (Moehammad Mancoer). Beliau belajar di Tempursari (Ponorogo), Sidoresmo (Surabaya), dan Kiyai Muhammad Shohih Bunikasih Cianjur (murid Syaikh Ibrahim al-Baijuri, Grand Syaikh Al-Azhar Mesir).

2. Kiyai Muhammad Soleh (Hadji Moehammad Calih). Belajar kepada Kiyai Obaidah (Sidoresmo Surabaya), Kiyai Yusuf Surabaya (belajar qira'ah dan falak), Kiyai Hasbullah Madura (murid Syaikh Ahmad Khatib Sambas).

3. Kiyai Sanusi (Hadji Sanoesi). Belajar kepada Kiyai Hasan Basri Kiarakoneng Garut, juga di Tempursari Ponorogo.

4. Kiyai Muhammad Soleh Awipari (Hadji Moehammad Calih). Belajar kepada Kiyai Sohih Bunikasih Cianjur, Kiyai Obaidah Sidoresmo Surabaya, Kiyai Adzro'i Sepanjang Sidoarjo, Sayyid Bakri Syatho Makkah (pengarang I'anah Tholibin), Syaikh Nawawi Banten Makkah.
Kiyai Muhammad Soleh Awipari juga menjadi murid tarekat dari Syaikh Muhammad Garut di Makkah (Syaikh Muhammad Garut adalah putra dari Kiyai Hasan Basri Kiarakoneng, juga murid dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas).

5. Kiyai Abdul Hakim. Belajar kepada Kiyai Obaidah Sidoresmo Surabaya. Lalu pergi ke Makkah. Lalu bermukim di Awipari.

Wallau A'lam. []

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Ketika Falak Menghidupkan Sunnah: Risalah Gerhana Syekh Arsyad untuk Ulama Nusantara
Daya Tahan Pesantren: Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk.
Bahasa Al-Qur'an dan 300 Kata yang Terkadang Salah Dipahami
Muqaddimah al-Fawâ’id: Kitab yang Ditulis untuk Pangeran Abdul Qadir Kesultanan Banten, Karya Syaikh Abdul Bashir al-Dharir Bugis (w. 1733)?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.