Press ESC to close

Cahaya Pendidikan di Tengah Tantangan Zaman

  • May 02, 2026
  • 3 minutes read
  • 54 Views

Zaman terus bergerak, membawa perubahan sekaligus tantangan. Teknologi melaju tanpa rem. Nilai-nilai sosial bergeser dan arus informasi kadang justru mengaburkan arah. Namun di tengah semua itu, ada satu hal tak boleh padam yaitu Cahaya Pendidikan. Pendidikan diibaratkan sebagai cahaya, yang berfungsi sebagai menerangi kebodohan. Jadi pengetahuan, pendidikan dijadikan petunjuk arah di saat kita bingung, Pendidikan memberi harapan buat masa depan yang lebih baik.

Di tengah tantangan zaman. Pendidikan jangan sampai terjadi krisis karakter. Pendidikan di zaman sekarang jangan sampai terjadi kesenjangan akses pendidikan.

Pendidikan bukan sekedar angka rapor atau gedung, sekolah yang megah. Ia adalah obor yang menuntun generasi agar tak tersesat dalam gelapnya kebodohan dan krisis karakter. Ketika dunia makin rumit tugas pendidikan justru makin jelas, membentuk manusia yang berpikir kritis, berhati nurani, dan berani menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan memperingati HARDIKNAS tahun 2026, ini menjadikan kita lebih semangat untuk mengabdi. Sesulit apapun zamanya, kita tidak boleh berhenti menyalakan cahaya itu. Karena di ruang kelas yang sederhana lahir masa depan bangsa. Mari bergerak serentak, demi anak bangsa yang tak hanya cerdas tapi juga berkarakter.

Dunia pendidikan turut bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan - lulusan yang dari segi akademis sangat bagus, tetapi dari segi karakter ternyata masih bermasalah. Maka dari itu di Hari Pendidikan Nasional saat ini sangatlah kita tanamkan Pendidikan yang berkarakter. Karena faktor moral (akhlak) hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar dapat membangun sebuah masyarakat yang maju, tertib, aman dan sejahtera.

Pendidikan ibarat menanam pohon jati, yang menanam belum tentu menuai, mungkin anak atau bahkan mungkin cucunya yang panen. Pendidikan merupakan investasi masa depan, berapapun biaya yang kita keluarkan tidak akan pernah mengalami kerugian. Pendidikan sekarang akan dirasakan manfaatnya di masa-masa mendatang.

Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan otak, mengasah keterampilan, dan menghaluskan budi pekerti. Budi pekerti yang luhur bisa mengantarkan seseorang untuk menjadi arif. Kearifan mengantarkan rasa, toleransi, menghargai pihak lain.

Pada mulanya sebelum ada pendidikan melalui sekolah seperti sekarang pendidikan dijalankan secara spontan dan langsung dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga. Maka pendidikan pada waktu itu merupakan sesuatu yang konkret, dan tidak direncanakan, tetapi langsung berhubungan dengan keperluan hidup.

Tokoh Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, pernah mengatakan; 

"Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya".

Artinya Pendidikan bukan hanya membuat kita pintar, tapi membentuk kita menjadi manusia yang berkarakter.

Di zaman sekarang, informasi sangat mudah didapat. Tapi karakter tidak bisa unduh. Kejujuran tidak bisa dicari di internet. Disiplin tidak bisa dibeli. Semua itu hanya bisa dibentuk melalui proses pendidikan. Maka dari itu sebuah tempat pendidikan / sekolah merupakan tempat untuk bertumbuh dalam, sikap yang baik, tanggung jawab, rasa hormat kepada guru dan orang tua.

Jangan pernah menganggap belajar itu sebuah beban. Karena sejatinya, pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki masa depan. Bangsa ini tidak membutuhkan orang yang hanya pintar, tapi juga yang jujur, yang peduli dan yang mau berjuang.

Di momen Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita semua untuk terus menghargai pendidikan, menghormati guru, dan memaksimalkan setiap kesempatan belajar yang kita miliki.

 

Oleh: Khusnul Khotimah (Guru Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Syafi'iyah Bandung 3, Diwek, Jombang)

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Ketika Kiai Ahmad Basyir AS menafsirkan Q.S. Al-Mu’minun 1-3
Dari Toleransi ke Akomodasi: Langkah Nyata Menghidupkan Keberagaman Tradisi
Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.