Kenyang berorganisasi. Barangkali dua kata itulah yang dapat mewakili sepak terjang seorang Abdulloh Hamid yang kini berstatus sebagai Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Pria kelahiran Pati 28 Agustus 1985 ini menamatkan program Doktoral (S3) Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang berkat Program Beasiswa 5000 doktor Kementerian Agama Republik Indonesia 2016-2020.
Perjalanan intelektualnya yang panjang tidak serta merta ia dapatkan dengan mudah. Pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren TBS Kudus (1996-2003) ini sejak di bangku madrasah memang senang menempa dirinya dengan berorganisasi. Hingga Hamid muda pernah menjadi Ketua PAC IPNU Sukolilo dan Ketua PC IPNU Kabupaten Pati (2009-2011). Ia juga pernah aktif di PMII dan kini berkhidmat menjadi Ketua Ansor University Jawa Timur (2024-2028). Hamid juga merupakan alumnus Program IVLP (International Visitor Leadership Program) di Amerika Serikat (2018).
Dosen yang juga penulis buku Literasi Digital Santri Milenial (2021) ini dapat dibilang hijrah ke Surabaya dengan tekad bulat.
"Saya mengajar tahun 2014. Dan tahun itulah perpindahan IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel. Jadi saya termasuk dosen awal atau assabiqunal awwalun di Fakultas Sains dan Teknologi Prodi Matematika,” jelas pria yang juga Dosen Pascasarjana di UNWAHA Tambakberas Jombang ini.
Hingga kini, ia juga mengajar di S1 Prodi Sistem Informasi, Tarbiyah dan Pascasarjana Magister PAI pada mata kuliah Teknologi Pendidikan, Pengembangan Media Pembelajaran, Metodologi Penelitian. Ia juga telah menerbitkan puluhan jurnal yang terindeks Sinta maupun Scopus.
Infrastruktur Teknologi Digital Pesantren
Lama melakukan pendampingan gerakan santri, Abdulloh Hamid selalu mengingatkan bahwa santri harus mampu beradaptasi dengan lingkungan. Salah satu bentuk adaptasi lingkungan itu adalah adaptasi teknologi.
"Kecerdasan Artifisial ini para santri mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman kalau mau eksistensi dan survive,” jelas Dosen yang juga Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi (LPTU) di PWNU Jawa Timur ini.
Kenapa dan apa manfaatnya? "Santri punya kaidah “Al-Muhafazhah 'alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil kebiasaan baru yang lebih baik," ujarnya.
Menurutnya, santri itu biasanya kuat dalam tradisi-tradisi kelilmuan pesantren agama, tapi dengan perkembangan zaman juga dituntut harus mau mengambil keilmuan-keilmuan yang baru. Harus mau beradaptasi dengan teknologi-teknologi yang baru.
"Seperti contohnya Gus Mus (KH Ahmad Musthofa Bisri). Beliau adalah salah satu contoh Kiai yang melek teknologi. Gus Mus sudah memperkenalkan Kitab Maktabah Syamilah di dalam laptopnya ketika mengaji, di saat kiai-kiai belum mengenal tablet, beliau menggunakan tablet. Di saat kiai-kiai belum menggunakan sosial media, beliau menggunakan social media Twitter untuk berdakwah sehingga muncul istilah 'Jum’at Call Gus Mus' yang memberikan tausiyah lewat media sosial," imbuh pria yang juga Sekretaris Komisi Pendidikan dan Pengajaran Senat UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Dari pergerakannya mengkampanyekan santri melek literasi digital dan membuat jejaring santri. Hamid berharap dalam jangka panjang aka ada sebuah infrastruktur teknologi digital pesantren.
"Keilmuan pesantren saat ini hanya bisa diakses oleh orang-orang pesantren, ke depannya saya berharap keilmuan pesantren itu bisa diakses oleh semua orang. Sehingga saya memimpikan membuat infrastruktur teknologi digital menggunakan MOOC (Massive Open Online Course). Gambarannya seperti edX (platform pembelajaran daring) seperti kampus-kampus dunia yang membuka kursus jadi siapa saja kapan dan di mana saja bisa mengikuti,” jelas ayah tiga anak ini.
Di edX ini, lanjutnya kampus-kampus top dunia seperti Oxford University dan Harvard University menyelenggarakan kursus dengan dosen-dosen profesor yang sangat otoritatif di bidang masing-masing. Atau Coursera salah satu website yang diisi oleh teknologi raksasa dunia seperti IBM, Oracle Academy, dan seterusnya.
"Nah, saya membayangkan santri harus juga punya infrastruktur MOOC. Mulai dari hal yang sederhana seperti tahsin Al-Qur'an, fikih lengkap dengan ushul fikihnya atau hadis. Saya itu membayangkan pesantren yang sekarang sudah punya Ma’had Aly dengan tahassusnya masing-masing, itu kita siapkan infrastrukturnya kemudian sambung antara satu dengan lainnya. Dan nanti juga bersertifikat dan bersanad,” tambahnya.
Cita-cita besarnya itu saat ini masih diterapkan melalui kanal Ansoruniversity.id (inovasi pendidikan kader Gerakan Pemuda Ansor) yang masih terus dikembangkan hingga saat ini.
Menurut Hamid, hal tersebut jika tidak dimulai oleh santri sendiri maka akan sulit membentuk ekosistem teknologi yang maju di dunia santri dan pesantren. Tren santri yang pernah booming pada tahun 2016 seperti 'Gerakan Nasional Ayo Mondok' yang digaungkan oleh RMI PBNU salah satunya juga buah refleksi untuk meningkatkan semangat anak-anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan pesantren.
Apalagi menurutnya saat ini pesantren di-framing negative oleh pihak tertentu. Santri dengan keahlian tekonologi digitalnya, seharusnya sudah mampu memproduksi konten positif terkait pesantren yang memiliki keilmuan luhur.
“Karenanya saya juga terlibat dengan AIS (Arus Informasi Santri) Nusantara. Mengajak teman-teman dalam tahaddus bin nikmah, jadi kita bercerita tentang kebaikan yang ada di pesantren dan agama Islam. Dengan adanya AIS Nusantara adalah ikhtiar santri untuk meng-counter sampah informasi yang membanjiri social media," bebernya.
"Saya juga aktif di Santri Desain Community, dengan Santri Desain ini mereka membuat Madrasah Desain di beberapa tempat. Menginsprasi di sosial media. Saya lihat sekarang desain pesantren sudah mulai bagus,” tambahnya.
Hamid juga membuat Dunia Santri Community. Tujuannya adalah santri harus terus berjejaring. Tidak untuk saat ini tapi untuk masa depan, lanjutnya. Karena keberhasilan seseorang itu melaui berjejaring. Selain jejaring itu juga harus membuat ekosistem akademik. Membuat diskusi, bedah buku dan dipublikasikan melalui platform media pesantren.id.
Inspirator Pergerakan
Penulis buku Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren (2016) ini memang tidak akan jauh-jauh dari santri dan pesantren. Dalam perjalanan hidupnya, ada sosok yang selalu melecut semangat perjuangannya.
“Saya mengagumi ayah saya yaitu almarhum Mbah H Ali Solikhin yang memiliki spirit tinggi. Ayah saya setiap hari Jumat dari satu masjid ke masjid lain, dari satu desa ke desa lain keliling mengikuti jejak gurunya Mbah Arwani untuk berdakwah," tuturnya.
Menurutnya sang ayah giat mengajari beberapa jamaah di gunung-gunung di desa-desa. "Mulai dari hal yang mendasar seperti cara berwudhu dan sholat yang sesuai syari’at dengan kitab Safinatun Najah,” jelas suami dari Santi Andriyani ini.
Sosok kedua adalah guru-guru rohaninya. Mbah KH Ma’mun Ahmad Kudus guru yang mengukir karakter seorang Hamid kecil hingga sekarang.
"Bahkan ketika belum khitan saya dikhitankan oleh kiai saya. Beliau adalah kiai yang wira’i. Guru-guru ngaji Al-Qur’an saya, dan Mbah Ahmad Basyir Kudus guru di bidang riyadhah saya. Jadi saya dulu itu puasa, mulai dala’il qur’an, dala’il khoirot tiga tahun, dan puasa daud,” terangnya lebih lanjut.
Hamid juga terinspirasi dari KH Sahal Mahfudz, meski belum pernah mondok secara langsung, tetapi istrinya adalah santri dari Kiai Sahal. Pesan yang selalu diingat dari Kiai Sahal adalah Menjadi orang baik itu mudah, karena dengan diam itu sudah terlihat baik. Yang susah itu menjadi bermanfaat karena membutuhkan perjuangan.
“Jadi walaupun kadang kita capek, kita tidak nyaman tapi spirit perjuangan ini yang harus terus kita nyalakan. Kita tidak bisa ikut mengutuk kegelapan, tapi kita bisa menyalakan lilin-lilin kecil untuk memberikan cahaya,” ungkapnya.
Dengan mengingat semangat perjuangan kiai-kiai pendahulu, menjadi santri harus terus semangat menebarkan kebaikan terlebih dakwah digital.
Seperti semangat kaidah Al Islamu ya'lu wa la yu'la 'alaih yang artinya Islam itu sesuatu yang sangat mulia dan luhur. Dan yang bisa mewakili otoritas islam itu harus santri. Karena santri dari kecil belajar, tahap demi tahap tentang keagamaan yang luhur.
"Makanya para santri jangan diam. Kata Gus Mus sekarang saatnya diam bukan emas lagi," pungkas Dosen Tamu Teknologi Pendidikan Pascasarjana Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang ini. []
Artikel ini telah terbit di arina.id