Dalam khazanah Islam Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) sering dikenal dengan kekhasan amaliyahnya. Tahlilan, wiridan dengan bilangan tertentu, doa bersama setelah salat, hingga peringatan hari-hari besar Islam menjadi bagian dari keseharian jamaah. Namun, amaliyah ini kerap menjadi perbincangan, bahkan tidak jarang dituduh sebagai bid’ah oleh sebagian kelompok Islam lain. Di tengah perdebatan tersebut, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menghadirkan pendekatan yang menyejukkan: amaliyah NU bukanlah hasil rekaan belaka, melainkan berakar kuat pada dalil-dalil shahih, dengan cara pembacaan induktif yang diajarkan ulama.
Pendekatan dalam Pengambilan Dalil untuk Amaliyah NU
Pendekatan induktif yang dimaksud Gus Baha adalah cara berpikir dari dalil umum menuju penerapan yang lebih khusus. Misalnya, hadis Nabi yang berbunyi: “Man qara’a ḥarfan min kitābillāhi falahu bihi ḥasanah, wal-ḥasanatu bi‘ashri amthālihā. Lā aqūlu Alif-Lām-Mīm ḥarf, walākin Alifun ḥarf, wa Lām ḥarf, wa Mīm ḥarf.” (Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, dan satu kebaikan akan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif Lām Mīm satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf). (HR. Tirmidzi). Hadis ini bersifat umum: membaca huruf-huruf Al-Qur’an mendatangkan pahala. Dari sini, para ulama memahami bahwa membaca wirid tertentu dalam jumlah tertentu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari upaya mengamalkan dalil umum tersebut.
Contoh lain adalah hadis riwayat Muslim tentang tasbih: “Kalimatāni khafīfatāni ‘alā al-lisān, thaqīlatāni fī al-mīzān, ḥabībatāni ilā ar-Raḥmān: subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhil-‘aẓīm.” (Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu: Subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhil-‘aẓīm (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung)). Hadis ini tidak menentukan jumlah bacaan. Namun, praktik menghitung dengan bilangan tertentu merupakan hasil ijtihad ulama untuk membantu umat beristiqamah dalam zikir. Dengan demikian, wiridan dengan angka 33, 100, atau 1000 bukanlah “tambahan ibadah baru” yang menyalahi agama, melainkan penerapan dari dalil umum yang dipersempit dalam bingkai praktik.
Metode induktif ini jugalah yang melandasi tahlilan. Bacaan kalimat “lā ilāha illallāh” jelas memiliki dasar hadis yang kuat. Nabi sendiri bersabda: “Afḍalu ḏ-ḏikri lā ilāha illallāh” (dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah). Ketika ulama kemudian menyusun bacaan tahlil yang dirangkaikan dalam sebuah acara doa bersama, maka itu merupakan turunan logis dari dalil umum tersebut. Bagi Gus Baha, inilah letak kearifan para ulama NU: tidak terjebak pada pendekatan literal semata, melainkan mampu mengembangkan tradisi amaliyah dengan tetap berpijak pada fondasi hadis shahih.
Lebih jauh, Gus Baha sering mengingatkan bahwa ulama besar semisal Imam Nawawi, Jalaluddin as-Suyuthi, hingga ulama hadis seperti Ibnu Hajar al-Asqalani juga menempuh pendekatan serupa. Mereka tidak sekadar berhenti pada teks, tetapi menghubungkan dalil umum dengan kebutuhan umat. Dengan begitu, amaliyah NU sejatinya tidak berbeda dari khazanah klasik Islam yang sudah dipraktikkan lintas abad.
Tidak Terlepas dari Tradisi Keilmuwan Cendekiawan Global
Jika ditarik lebih luas, pola induktif yang dijelaskan Gus Baha sejatinya adalah bagian dari tradisi keilmuwan Islam global. Dalam sejarah, ulama di berbagai belahan dunia melakukan hal serupa: menghubungkan dalil-dalil umum dengan praktik ibadah umat yang lebih spesifik.
Ambil contoh, dalam tradisi tasawuf di Timur Tengah. Para sufi besar seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menekankan pentingnya zikir dengan jumlah tertentu sebagai sarana melatih hati. Hal serupa terlihat pada tarekat-tarekat yang berkembang di Afrika Utara, Turki, hingga Asia Tengah, yang membentuk wiridan khas tetapi tetap berakar pada hadis umum tentang zikir. Dengan demikian, praktik amaliyah NU bukanlah “penyimpangan lokal”, melainkan bagian dari warisan global Islam.
Dalam konteks kontemporer, perdebatan soal tahlilan dan wiridan juga mewarnai ruang publik Muslim internasional. Sebagian kalangan salafi mengkritik tradisi itu sebagai bid’ah, sementara kelompok tradisionalis mempertahankannya dengan landasan fiqh dan hadis. Kehadiran Gus Baha menjadi penting karena menawarkan cara pandang yang menengahi: bukan sekadar defensif, melainkan menunjukkan basis ilmiah yang bisa diuji secara akademis.
Globalisasi Islam hari ini membawa dua arus sekaligus: homogenisasi dan diversifikasi. Di satu sisi, muncul dorongan untuk menyeragamkan praktik ibadah hanya pada hal-hal yang literal dari teks. Di sisi lain, justru makin banyak pengakuan terhadap keragaman tradisi keagamaan, apalagi dengan kemudahan akses informasi lintas negara. Dalam arus semacam ini, ceramah Gus Baha tentang amaliyah NU menjadi semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa tradisi lokal seperti tahlilan memiliki legitimasi dalil dan berkelindan dengan warisan global ulama Islam.
Saran untuk Cendekiawan NU dan Intelektual Muslim
Menariknya, Gus Baha tidak hanya menyampaikan pendekatan induktif ini kepada jamaah tradisional, tetapi juga mendorong kalangan cendekiawan dan intelektual Muslim, terutama yang berada di diaspora, untuk mengadopsi metode serupa. Menurutnya, kritik terhadap amaliyah NU yang datang dari intelektual Muslim internasional, khususnya dari kalangan skripturalis, perlu diimbangi dengan argumentasi akademik yang sepadan.
Dengan pendekatan induktif, intelektual NU dapat menunjukkan bahwa amaliyah tahlilan, wiridan, atau doa bersama bukanlah “rekayasa lokal”, melainkan ekspresi ijtihad yang berakar pada dalil umum dan didukung warisan ulama klasik. Hal ini menjadi penting agar tradisi keislaman Nusantara dapat berdialog setara dengan tradisi Islam lain di ranah akademik global.
Dengan demikian, Gus Baha seolah berpesan bahwa peran cendekiawan NU bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menyuarakan legitimasi ilmiahnya di hadapan komunitas Muslim internasional.
Referensi:
Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis yang didasarkan pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Doa untuk Negeri yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat & Kanada pada 14 September 2025 dengan menghadirkan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sebagai penceramah utama.