Press ESC to close

Resolusi Jihad Versi Gen Z

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2025 dirayakan di seluruh wilayah Nusantara. Dengan gegap gempita, kaum santri mengenang dan mengambil spirit perjuangan para pendahulu dalam berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. Tentu dengan berbagai kegiatan yang tidak seragam.

Spirit Resolusi Jihad 

Pada HSN 2025 ini, beberapa hari sebelumnya kaum santri se-Nusantara memperoleh “kado yang tidak mengenakkan” dari Trans7. Sebuah stasiun televisi berskala nasional yang sangat mendiskreditkan dunia pesantren. Itu dijumpai dalam tayangan X-Pose Uncensored edisi Senin (13/10).

Kasus akibat ulah Trans7 ini merupakan cerminan masih dibutuhkannya upaya peningkatan tradisi dunia literasi. Kejelian, akurasi dan klarifikasi, sebagai inti literasi, belum dilakukan secara cermat. Budaya asal comot dari banyak sumber masih mendominasi. Diolah sedemikian rupa “seolah-olah” menjadi konten bermutu.

Kecerobohan yang bermula sekedar copy paste ini menyesakkan dada bagi dunia penyiaran di Indonesia. Meski diklaim bukan sebagai produk jurnalistik, tayangan X-Pose Uncensored di Trans7 itu jelas dibuat secara instant dan sekedar mengejar rating. Kualitas tayangan edukatif tentu menjadi terpinggirkan.

Kondisi ini mendorong adanya upaya untuk terus meningkatkan tradisi literasi. Dunia pesantren yang sudah kenyang dengan tradisi literasi, diharapkan terus menjaga praktik baik itu. Sehingga masyarakat “dunia luar” bisa semakin belajar dari pesantren terkait peningkatan dan penjagaan tradisi literasi. 

Peringatan HSN yang diinspirasi oleh adanya Resolusi Jihad yang digaungkan kalangan pesantren lewat NU untuk berperang melawan kolonial, spiritnya harus terus dijaga dalam kehidupan modern seperti sekarang. Berbagai fenomena dunia modern yang semakin menjauhkan masyarakat dari keadaban harus dijawab spirit Resolusi Jihad dalam mengusir kolonial edisi baru. Tentu dengan kemasan aktualisasi yang disesuaikan dengan modernisasi zaman. 

Umat Islam Indonesia masa sekarang tentu sudah tidak perlu lagi mengangkat senjata melawan Belanda saat Resolusi Jihad dikumandangkan tanggal 22 Oktober 1945 silam. Ini karena musuh nyata yang dihadapi umat Islam Indonesia sekarang bukan kaum penjajah. Namun kondisi bangsa yang masih terus berproses menjadi lebih baik harus didukung dengan sepenuh hati.

Berbagai kasus korupsi yang masih terjadi harus dijawab dengan menyiapkan generasi yang mengutamakan adab (attitude) dibandingkan kecerdasan dalam mengemban amanat. Aparat penegak hukum yang tidak lelah dalam memberantas korupsi harus ditopang dengan upaya jangka panjang menyiapkan generasi pantang menyerah. 

Itu semua bisa diwujudkan dengan proses pendidikan di pesantren yang dilakukan terus membaik. Terlebih dunia pesantren sekarang terus mengikuti perkembangan jaman dengan membuka institusi pendidikan yang tidak mengajarkan ilmu keagamaan saja. Sekarang sudah sangat banyak pesantren yang membuka madrasah, sekolah bahkan perguruan tinggi hingga jenjang doktoral (strata-3). 

Santri Gen Z

Santri adalah unsur terpenting dalam dunia pesantren Indonesia untuk menuju generasi Indonesia Emas 2045. Kontribusi mereka tentu ke depan akan menggantikan para kiai dan pendidik yang berkiprah di masa sekarang. Terutama dalam menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang terus meningkat dalam membawa Indonesia ke depan menjadi lebih baik. 

Meminjam istilah Zamakhsyari Dhofier dalam The Pesantren Tradition (1999), santri menjadi aspek terpenting dalam lima unsur pesantren. Santri, sebagaimana pendapat Clifford Geertz dalam buku The Religion of Java (1960), diidentifikasi sebagai golongan masyarakat Jawa yang menjalankan ajaran Islam secara lebih konsisten. Mereka lebih menekankan pada pelaksanaan ritual dan norma-norma keagamaan yang formal. Kaum santri ini berbeda dengan kelompok abangan yang lebih sinkretis dan kelompok priyayi yang lebih feodal. 

Rais ‘Am PBNU KH Miftachul Akhyar, sebagaimana dikutip Nur Aziz Muslim (2025), memaknai santri sebagai insan (san) yang memiliki tiga (tri) dimensi. Baik iman, Islam maupun ihsan. Sedangkang Prof Achmad Muchibbin Zuhri (2010) menyebut santri sebagai luru ilmu kanti lelaku. Ini karena santri dalam konteks pesantren merupakan refleksi dari pancaran dan kedalaman ilmu kiai. Santri selama menimba ilmu di pesantren harus mampu meniru keteladanan kiai dalam hidup keseharian, tidak sekedar memberikan nasihat. 

Santri pada era digital sekarang ini adalah generasi calon penerus bangsa yang harus terus dibekali dengan kemajuan sains-teknologi. Di samping tetap harus secara kontinyu untuk menjaga ketahanan moral yang sudah diajarkan di pesantren. Aspek lain yang harus tetap harus dipertahankan santri ke depan, di samping adab, adalah spirit nasionalisme. 

Resolusi Jihad menjadi bukti nyata bahwa kaum santri tidak sekedar belajar agama. Namun juga berjuang secara totalitas menjaga negara dan bangsa. Bahwa sejarah Indonesia amat panjang meraih kata merdeka. Dan, itu semua harus diwarisi sang santri Gen Z untuk terus mengabdi kepada ibu pertiwi.

Mukani M.Pd.I

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur dan alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.