Press ESC to close

Perempuan dan Wacana Agama

Bicara tentang perempuan, sebelum adanya Islam, perempuan sangatlah rendah pada zaman itu. Terbukti ketika ada anak yang lahir kok perempuan, hal tersebut dianggap AIB.

Padahal perempuan adalah saudara dari laki-laki, terkumpul dalam satu eksistensi yaitu sama-sama manusia. Masalah kemampuan kenapa berbeda itu hanya konstruksi yang dibangun dan diciptakan.

Apakah perempuan dan laki-laki berbeda?

Perbedaannya hanya tubuhnya saja (Given/Qodrat Allah). Selain itu perempuan dan laki-laki sama. mempunyai Potensi yang sama, potensi itu sendiri ada 4 yaitu:

  1. Intelektual
  2. Spiritual
  3. Hasrat Seksual
  4. Energi

Dari kesemuanya potensi tersebut bersifat relatif, hal tersebut tergantung konstruksi jadi bisa dibentuk.

Dikarenakan sama-sama punya potensi maka berhak mempunyai hak-hak yang sama.

Hal tersebut didukung dengan ayat Al-Quran surat al-hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu."

Jadi, kemuliaan itu dilihat dari ketakwaannya bukan antara laki-laki atau perempuan. ditambah menurut KH. Husein Muhammad, beliau mengartikan Takwa adalah komitmen kemanusiaan. tindakan memanusiakan manusia

Adapun kalau ada wacana agama yang seakan-akan memarjinalkan bahkan mendiskriminasikan perempuan (misoginis) itu bukan ayat/hadisnya yang salah. Akan tetapi pemahaman kita yang belum sampai kepemahaman yang sebenarnya.

Buya Husein menjelaskan bahwa teks tidak hadir di ruang hampa. melainkan ruang (kebudayaan) yang sudah terbentuk.

Teks baik itu ayat al-Quran ataupun hadis dibagi menjadi 2 yaitu:

  1. Partikular: merupakan teks hukum yang kontekstual. Benar dalam konteksnya masing-masing.
  2. Universal: teks yang tetap. berisi tentang kesetaraan kemanusiaan (adil, maslahah, rahmah dan hikmah)

Dengan itu semua semoga kita semakin bijak dalam memahami teks dan tidak menjadikan teks sebagai alat penindasan terhadap sesama manusia seperti perempuan.

Mengutip dawuhnya Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc. MA (Gus Reza) kepada saya, Beliau dawuh:

من اتسع علمه اتسعت رحمته

"Barang siapa yang memperluas ilmunya makan akan semakin luas kasih sayangnya"

Semoga dengan bertambahnya wawasan kasih sayang kita terhadap perempuan lebih tinggi. bentuk kasih sayang kita dengan menjunjung tinggi hak-hak perempuan, tidak ada lagi marjinalisasi bahkan diskriminasi. [hw]

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.