Hari Disabilitas Internasional adalah momentum penting untuk merayakan potensi tak terbatas dan ketangguhan para penyandang disabilitas. Namun, lebih dari sekadar perayaan, hari ini juga harus menjadi refleksi kritis terhadap kebijakan dan akses yang mempengaruhi perjalanan akademik dan profesional mereka. Data Beasiswa Afirmasi Disabilitas LPDP dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 memberikan gambaran yang jelas mengenai dinamika akses ini: sebuah kisah tentang lonjakan harapan yang kini dihadapkan pada tantangan strategis baru.
Grafik yang dirilis oleh LPDP menunjukkan sebuah narasi optimisme yang kuat. Dimulai dari hanya 1 penerima pada tahun 2018, angka ini melonjak drastis hingga mencapai puncaknya 157 penerima pada tahun 2024. Peningkatan spektakuler ini, terutama setelah tahun 2022, adalah bukti nyata keberhasilan kebijakan afirmatif LPDP dalam menjangkau dan memberdayakan komunitas disabilitas. Ini menunjukkan bahwa minat untuk melanjutkan studi sangat tinggi, dan kemudahan proses (seperti penghapusan syarat TOEFL untuk studi dalam negeri) telah berhasil menghilangkan beberapa hambatan administrasi yang krusial.
Namun, di tengah capaian tersebut, muncul sebuah tanda tanya besar: Proyeksi tahun 2025 menunjukkan penurunan signifikan menjadi 123 penerima. Mengapa terjadi penurunan kuota setelah lonjakan masif, padahal minat dan kemudahan aplikasi justru meningkat? Jawabannya terletak pada kebijakan prioritas nasional yang sedang diterapkan oleh LPDP.
Penurunan ini bukan disebabkan oleh kurangnya pelamar yang berminat atau kurangnya kualifikasi, melainkan hasil dari kebijakan institusional LPDP yang berfokus pada Strategi Prioritas STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dan manajemen kuota secara keseluruhan.
Pemerintah, melalui LPDP, sedang mengarahkan pendanaan beasiswa secara masif ke bidang-bidang yang dianggap krusial untuk transformasi ekonomi, seperti Teknologi Digital, Energi Terbarukan, dan Bioteknologi. Tujuannya mulia yaitu menciptakan Sumber Daya Manusia unggul yang siap menghadapi tantangan Industri 4.0. Namun, di sinilah tantangan bagi komunitas disabilitas muncul.
Aksesibilitas dan Jurang Spesialisasi STEM-NonSTEM
Kenyataan di lapangan, tidak banyak penyandang disabilitas yang memilih studi di bidang STEM. Realitas ini adalah produk dari hambatan historis yang kompleks, bukan kekurangan minat atau kecerdasan.
Pertama, hambatan akses fisik. Banyak disiplin ilmu STEM (seperti Teknik, Kimia, atau Biologi) memerlukan akses ke laboratorium khusus, peralatan yang belum tentu accessible, dan bahkan kegiatan lapangan yang sulit dijangkau. Bagi penyandang disabilitas fisik, tantangan ini seringkali menjadi penghalang yang tak terhindarkan sejak bangku sarjana.
Kedua, keterbatasan pilihan. Akibat hambatan ini, banyak penyandang disabilitas yang sangat cerdas dan berbakat justru mengarahkan minat mereka ke bidang-bidang yang dianggap lebih accessible dan fokus pada isu-isu sosial, seperti Psikologi, Hukum, Administrasi Publik, atau Pendidikan—yakni bidang Non-STEM.
Ketika LPDP mengencangkan kuota totalnya dan mengalihkan fokus utamanya ke STEM, generasi muda penyandang disabilitas terperangkap di tengah-tengah kebijakan ini. Kuota beasiswa Afirmasi yang tersedia kini harus bersaing dengan dua realitas:
Pertama, Pilihan Prioritas (STEM). Sedikit penyandang disabilitas yang mendaftar dan memenuhi syarat di bidang STEM yang diutamakan. Yang kedua, pilihan Mayoritas (Non-STEM): Mayoritas pelamar disabilitas unggul di bidang Non-STEM, tetapi kuota untuk Non-STEM, secara umum, sedang dikurangi. Akibatnya, terjadi penurunan jumlah penerima pada tahun 2025, bukan karena tidak ada orang yang layak, tetapi karena tidak ada spesialisasi yang layak sesuai dengan skema prioritas baru.
Pesan Hari Disabilitas: Aksesibilitas Kebijakan
Dalam konteks Hari Disabilitas, refleksi ini harus melahirkan seruan baru, kita tidak hanya perlu aksesibilitas fisik (rampa, lift, braille), tetapi juga aksesibilitas kebijakan. Jika tujuan LPDP adalah membangun SDM yang inklusif dan strategis, maka kebijakan prioritas harus memperhitungkan realitas demografis dan historis penyandang disabilitas. Mengurangi kuota afirmasi—bahkan jika itu didasarkan pada strategi STEM nasional—berisiko mengesankan bahwa para penyandang disabilitas hanya disambut ketika mereka menyesuaikan diri dengan "cetakan" prioritas ekonomi, bukan ketika mereka ingin mengembangkan potensi di bidang apa pun yang mereka pilih.
Pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan STEM nasional dilengkapi dengan strategi inklusi yang eksplisit. Hal ini bisa dilakukan dengan mengalokasikan dana khusus untuk memastikan laboratorium dan fasilitas penelitian di kampus-kampus prioritas dilengkapi dengan teknologi dan desain yang accessible untuk penyandang disabilitas.
Berikutnya, mempertahankan atau bahkan meningkatkan kuota pada jalur Afirmasi, sambil mengakui bahwa spesialisasi Non-STEM (seperti kebijakan publik, hukum, dan pendidikan disabilitas) juga merupakan bidang yang sangat strategis untuk pembangunan sosial dan inklusi.
Semangat "Menenun Mimpi" yang diusung LPDP tidak boleh terputus hanya karena prioritas bidang. Setiap individu, terlepas dari kondisi fisik atau sensoriknya, berhak mendapatkan akses penuh untuk mencapai potensi akademis tertinggi. Hari Disabilitas harus menjadi pengingat bahwa inklusi sejati berarti menyesuaikan sistem agar sesuai dengan keragaman manusia, bukan memaksa manusia yang beragam untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang kaku.
Penerima beasiswa LPDP jalur afirmasi disabilitas berhasil melonjak dari 1 ke 157 penerima dalam enam tahun, sebuah bukti bahwa penyandang disabilitas benar-benar mampu. Lantas, melihat proyeksi penurunan di 2025, apakah kita sudah selesai memberdayakan mereka semua, atau memang tiba-tiba kita kehabisan penyandang disabilitas yang cukup strategis untuk negara?