Malam Jumat lalu adalah kedua kalinya saya mengikuti majelis pembacaan maulid di Masjid Daar Ibn Abbas, Condell Park. Berbeda dengan kali pertama saya hadir dua pekan sebelumnya, Sheikh Abdul Moez An Nafti, sang perintis berdirinya masjid itu, tak nampak hadir. Tapi yang berkesan di malam itu adalah sisipan bait-bait qasidah pujian untuk Rasulullah, semacam tambahan di luar teks maulid yang dibaca.
Di antara qasidah tersebut adalah syair terkenal yang dibuka degan kata-kata ṭālamā ʾashkū gharāmī, artinya kira-kira ‘sekian lama aku mengadukan rasa cintaku’. Tentu saja konteks rindu ini adalah rindu kepada Sang Rasul utusan Allah. Dan kebetulan pula tausiah sebagi bagian dari mejelis malam itu membawa pesan tentang cinta serta rindu baik kepada Allah maupun Rasulullah.
Cinta dan rindu merupakan bagian tak terpisahkan dari maulid, salah satu jenis karya sastrawi yang memuat kisah hidup maupun pujian kepada Nabi Muhammad, dengan bentuk lirik maupun naratif. Ada beragam karya maulid yang ditulis oleh banyak tokoh sepanjang sejarah masyarakat Muslim. Pada Thursday Night Gathering di Masjid Daar Ibn Abbas sendiri, teks maulid yang dibaca adalah Aḍ-Ḍiyā’ al-Lāmi‘ bi Dzikri Mawlidi an-Nabiyyi asy-Syāfi‘ karya Habib Umar bin Hafidz.
Kalau kata Bimbo, lewat syair yang ditulis Taufik Ismail, rindu kepada Rasul itu serupa rindu yang ‘tiada terperi’. Maka hadir saya dalam majelis pembacaan maulid itu pun adalah semacam didorong rasa rindu sedemikian. Meski begitu, masih juga ada gamang. Pantaskah diri ini menyampaikan rindu kepada Rasulullah, sementara salah dan dosa diri seakan tiada habisnya? Lalu saya niatkan saja untuk menitipkan rindu, pada mereka para pembaca maulid, yang saya anggap jauh lebih saleh dibanding saya.
Jika mengaku rindu kepada Rasulullah tidak berani, paling tidak ada rindu pada tradisi itu sendiri, yaitu tradisi pembacaan maulid di kampung halaman. Di tempat asal saya Purworejo, kami biasa membaca ʿIqdu al-Lu’luʾ ad-Durriyyah fī Mawlidi Khayri al-Bariyyah karya Imam Al Barzanji. Sementara di tempat domisili saya saat ini, Yogyakarta, yang biasa saya temui adalah Ad-Duraru al-Muḍīʾah fī Mawlid Khātami al-Anbiyāʾ karya Imam Ad-Dibāʿī.
Sebenarnya ada pengajian komunitas Indonesia di Sydney yang juga biasa mengagendakan pembacaan maulid. Namun karena satu dan lain hal, beberapa kali sesi pembacaan maulid ini tidak bisa dilaksanakan. Lalu berangkatlah saya ke Condell Park, yang jaraknya kira-kira 5 kilometer dari rumah tempat tinggal, bermodal rindu yang bercampur aduk, termasuk rindu tanah air dan keluarga di seberang sana.
Tak jarang, kalau berurusan dengan kisah Rasulullah, baik sirah maupun maulid, air mata ini berontak, lalu bisa tumpah sungguhan saat sendirian. Malam itu pun begitu, tapi berhasil saya tahan-tahan, malu kalau ketahuan. Dalam cemas ada sejumput harapan, betapa dalam gelimang kesalahan, semoga sedikit rasa ini bisa dihaturkan, sebagai penebus syafaat di kelak kemudian. Tiba-tiba suara sapaan mengalihkan perhatian, ternyata dari seseorang yang sama-sama setanah air. Dia menyapa terlebih dulu, agaknya karena songkok yang saya kenakan.
Cahaya yang Berkilauan
Pengalaman kali pertama ikut majelis pembacaan maulid di Masjdi Daar Ibn Abbas juga pantas diceritakan. Kabar tentang kegiatan ini saya dapat dari Mas Faiz asal Madura, yang pernah jadi santri di Lirboyo, Kediri. Tapi karena dia tidak bisa ikut berangkat menerima ajakan, maka saya pun menuju ke Condell Park sendirian. Sebagaimana Punchbowl tempat tinggal saya, Condell Park adalah salah satu suburb yang berada di area Sydney bagian Barat Daya, area di mana komunitas kaum Muslim mudah ditemui.
Satu malam di bulan Juli, puncak musim dingin di belahan bumi Selatan. Meskipun dingin mencengkeram, namun rembulan di langit seolah menampakkan seluruh parasnya untuk menghangatkan suasana. Pada penunjuk waktu shalat di dinding masjid, nampak tertulis bahwa malam itu adalah tanggal 15 Muharram. Sementara di ponsel saya, penunjuk waktu shalat Masjid Punchbowl menampilkan tanggal 16 Muharram. Beda tanggal selisih satu, tapi tidak berpengaruh pada binar rembulan.
Malam bulan purnama dan maulid, dalam benak saya adalah dua hal yang tidak tanpa kaitan. Purnama adalah salah satu penggambaran wajah Rasulullah saw., yang oleh seorang sahabat Nabi, Hind bin Abi Halah, digambarkan dengan kata-kata yatala’la’u wajhuhu tala’lu’a al-qamari laylata al-badri. Redaksi yang bisa ditemukan dalam riwayat Imam At-Tirmiżī dalam Asy-Syamā’il al-Muḥammadiyyah ini berarti wajahnya berkilau sebagaimana cahaya bulan pada malam purnama,
Memang Rasulullah dalam teks maulid maupun bait qasidah banyak digambarkan dengan lambang keagungan, termasuk segala yang berkait dengan cahaya. Lalu saya menemukan cahaya lain, ketika menyadari judul maulid yang dibaca pada malam itu. Dalam sampul tertulis terjemahan judul berbunyi The Resplendent Illumination: A Remembrancer of the Life of the Messenger. Judul lengkapnya memang panjang, kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi Cahaya yang Bersinar: Tentang Kelahiran Nabi Sang Pemberi Syafaat.
Maulid Aḍ-Ḍiyā’ al-Lāmi bukanlah yang popular dibaca di lingkungan saya ketika di tanah air. Pun berbeda dengan yang cukup saya kenal yaitu Maulid Al Barzanji maupun Maulid Ad-Dibāʿī, mawlid ini lebih banyak berupa bait-bait syair dalam bentuk qasidah. Tapi Ketika disimak, seolah ada kata-kata yang sudah kenal sebelumnya, karena terdengar serupa dengan apa yang ada di dua maulid tadi.
Terkait hal ini, saya kemudian menemukan satu skripsi dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Jakarta. Skripsi ini ditulis oleh Agung Dwi Prasetyo dengan judul At-Tanāṣṣ fī aḍ-Ḍiyā' al-Lāmi' lil-Ḥabīb ‘Umar bin Ḥafīẓ yang artinya Intertekstualitas dalam kitab aḍ-Ḍiyā' al-Lāmi' karya al-Ḥabīb ‘Umar bin Ḥafīẓ. Dari skripsi ini, saya sadar ternyata yang saya pikirkan memang ada benarnya. Intertekstualitas membahas tentang bagaimana satu teks merujuk dan dipengauhi oleh teks yang lain.
Temuan skripsi ini adalah bahwa memang ada hubungan intertekstualitas anta aḍ -Ḍiyā’ al-Lāmi dengan Maulid Al Barzanji, Mawlid Ad-Dibāʿī, serta satu lagi, Maulid Simṭu ad-Durar fī Akhbāri Maulidi Khayri al-Bashar karya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Maulid yang terakhir ini tidak terlalu populer di daerah saya tinggal, namun cukup masyhur di daerah lain semisal yang saya tahu di Pekalongan.
Maka malam itu memuat beberapa hal yang bertepatan. Saya hadir dalam majelis maulid tentang Rasulullah yang kerap diserupakan dengan cahaya dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Malam itu adalah malam pertengahan bulan hijriah, di mana rembulan nampak penuh dengan cahayanya. Malam itu pula, ternyata karya maulid yang dibaca memuat cahaya di dalam judulnya.
Masjid Daar Ibn Abbas
Mendengar nama Ibn Abbas tentu kita teringat pada salah satu sahabat Rasulullah yaitu Abdullah ibn Abbas. Bukan hanya karena sepupu dari Rasulullah, Ibn Abbas merupakan salah satu sahabat yang masuk golongan ahli fiqih, yang memberikan fatwa, yang menafsirkan Al Quran juga yang banyak meriwayatkan hadits. Tentu hal-hal tersebut merupakan kepantasan dari seorang sahabat yang namanya digunakan untuk sebuah masjid.
Awalnya, Daar Ibn Abbas adalah sebuah mushala yang menyewa tempat di 15-17 Cross Street Bankstown, hampir 4 kilometer dari lokasi sekarang. Mushala ini dibuka tahun 2010 lewat peran Sheikh Abdul Moez An Nafti Al Idrisi Al Hasani asal Tunisia, sosok yang tersambung garis keturunannya kepada Rasulullah. Dia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Zaituna Tunisia serta Al Azhar di Mesir, juga memiliki jalur keilmuan dari banyak ulama termasuk Shaikh Said Ramadan Al Buthi serta Shaikh Wahbah Al Zuhaili dari Suriah.
Sebelum ada nama Daar Ibn Abbas sendiri, Sheikh Abdul Moez An Nafti sudah merintis lembaga keagamaan Islam di Australia sejak tahun 2003 dengan nama Islamic Education Institute. Lembaga dan mushala berkembang, lalu terbukalah kesempatan untuk membangun masjid dengan skala lebih besar. Dengan dana yang terkumpul tak kurang dari tujuh juta Dollar Australia, pada September 2017 Daar Ibn Abbas mendapatkan persetujuan dari Sydney South Planning Panel untuk mendirikan bangunan sendiri di 131-135 Eldridge Road, Condell Park.
Dari jejak media sosialnya, nampak pembangunan masjid ini rampung pada masa pandemi tahun 2020. Sejak saat itu Masjid Daar Ibn Abbas menjadi dalah satu pilihan masjid yang cukup representatif bagi masyarakat Muslim di area Condell Park dan sekitarnya. Berada di lantai bagian atas, masjid ini memiliki area parkir yang cukup luas di bagian bawah. Desain masjid di bagian luar maupun interior yang nampak indah dan teduh dengan warna krem, ditambah kebersihan serta kesan bangunan masih baru, memberikan satu kenyamanan tersendiri.
Bersama dengan masjid, ada juga satu lembaga bernama Daar Aisha College yang berbasis di alamat yang sama. Sebagaimana Daar Ibn Abbas, lembaga ini juga membuka kelas-kelas pengajaran keagamaan Islam, namun dengan fokus utama kepada kaum Perempuan. Pada dua lembaga ini, pengajaran dilaksanakan baik secara offline maupun online. Mulai dari kelas keilmuan Islam pada umumnya semisal tafsir, hadits, fiqih dan aqidah, sampai kelas insyad (nyanyian keagamaan) dan daff (rebana) juga nampak dibuka.
Masjid Daar Ibn Abbas juga aktif bekerjasama dengan lembaga keagamaan Islam yang lain di sekitar. Masih dari media sosialnya, saya melihat imam masjid yang saya kenali dari Masjid Punchbowl serta Masjid Imam Ali bin Abi Talib Lakemba, diundang untuk menjadi pengisi acara di Masjid Daar Ibn Abbas. Sebaliknya, masjid ini juga terbuka untuk menerima undangan kerja sama daeri lembaga di luarnya. Pernah sekali dalam satu pengajian komunitas Indonesia, tausiah disampaikan seorang sheikh yang merupakan salah satu bagian dari para pengajar di masjid ini.