Lebaran selalu identik dengan suasana hangat saling memaafkan, berkumpul bersama keluarga, dan mempererat silaturahmi. Namun, di balik kehangatan itu, ada satu “tradisi tak tertulis” yang kerap muncul pertanyaan-pertanyaan pribadi yang terkadang terasa menekan, terutama bagi generasi muda atau Gen Z. Pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “kerja di mana sekarang?”, hingga “kapan punya rumah?” seolah menjadi menu wajib dalam setiap pertemuan keluarga.
Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, bagi Gen Z yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan kestabilan hidup, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti tekanan sosial. Tidak semua orang berada pada timeline kehidupan yang sama, dan tidak semua pencapaian bisa disamaratakan.
Dalam Islam, menjaga lisan merupakan hal yang sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa setiap ucapan seharusnya membawa kebaikan, bukan justru menimbulkan kegelisahan atau tekanan bagi orang lain.
Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya menjaga perasaan sesama. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرً
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka” (Q.S Hujurat [49]:11)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang ejekan secara langsung, tetapi juga dapat dimaknai sebagai peringatan untuk tidak merendahkan atau menilai orang lain secara sepihak, termasuk melalui pertanyaan yang bersifat sensitif.
Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah (persaudaraan), bukan ajang perbandingan hidup. Setiap individu memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Ada yang menikah lebih cepat, ada yang fokus pada pendidikan atau karier terlebih dahulu, dan semua itu adalah bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan.
Lebih bijak jika kita mengganti pertanyaan-pertanyaan yang menekan dengan percakapan yang lebih hangat dan suportif, seperti menanyakan kabar, kesehatan, atau hal-hal yang membangun semangat. Dengan begitu, silaturahmi tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar menghadirkan kenyamanan bagi semua pihak.
Lebaran bukan tentang seberapa banyak pencapaian yang bisa dipamerkan, melainkan tentang keikhlasan dalam memaafkan dan mempererat hubungan. Sudah saatnya kita mengubah “tradisi tak tertulis” ini menjadi budaya yang lebih empatik, di mana setiap orang merasa diterima tanpa harus dihakimi oleh standar kehidupan orang lain.