Kabar duka tiba di handphone-ku subuh tadi. Seorang aktivis Nahdlatul Ulama pilih tanding kembali keharibaan Sang Kholiq. KH. Sholeh Hayat dikabarkan wafat pada pukul 04.45 WIB di RSI Masyitoh, Bangil, Pasuruan. NU Jawa Timur sungguh kehilangan sosok yang energik tersebut.
Kiai Sholeh Hayat aktif di NU sejak belia. Mulai jadi pengurus IPNU di tingkat ranting sampai jadi Ketua PW IPNU Jawa Timur. Setelah itu, namanya terus tercantum sebagai pembina IPNU Jatim. “Nama saya ada di SK IPNU ini sepanjang hayat saya,” kelakarnya.
Kemudian beliau aktif di kepengurusan NU di tingkat Cabang hingga Wilayah. Akhir November kemarin, beliau masih dilantik sebagai jajaran Katib Syuriyah PWNU Jatim. Usianya yang menginjak kepala tujuh tak menyurutkannya mengabdi.
Kiprah Kiai Sholeh Hayat di NU Jatim ini menarik. Beliau tidak sekadar aktif, tapi juga menjadi pelaku sejarah yang “memenangi” nyaris seluruh kepemimpinan NU Jatim. “Hanya masanya Kiai Machfudz Syamsul Hadi yang saya tidak merasakan langsung,” ujarnya saat saya sowan pada 18 April 2023 lalu.
Bahkan, beliau mengoleksi seluruh laporan pertanggungjawaban seluruh periode kepengurusan wilayah NU Jatim. Hanya ada satu atau dua konferensi yang LPJ-nya tidak ada waktu itu. “Bisa jadi lupa naruh saya,” kilahnya.
Ya, banyak orang yang menyebut Kiai Sholeh Hayat sebagai kamus berjalan dalam “sejarah NU”. Selain aktif terlibat, juga aktif mengumpulkan cerita, arsip, dokumen hingga kliping. Hal ini menjadi harta karun tersendiri bagi para pengkaji sejarah NU.
Saat sowan pada waktu itu, beliau berkeluh kesah tentang minatnya pada sejarah NU itu belum bisa terwariskan. Ia kepikiran tentang dokumen dan kliping-klipingnya.
Saya dengan sedikit nekad menawarkan diri jadi ahli warisnya. Saya ceritakan kiprah Komunitas Pegon dalam mengelola arsip, dokumen dan kliping-kliping informasi seputar NU. Akhirnya, sebagian besar klipingnya diwariskan ke Komunitas Pegon.
Saya membawa pulang dua kardus dan satu kresek merah kliping surat kabar dari dekade 80-an sampai awal 2.000. Nyaris semua berita tentang NU dan Gus Dur tak luput dari guntingannya. “Nanti, kalau hasilnya bagus, semua saya wariskan ke kamu,” janjinya.
Selain kliping, saya juga mendapat copy-an seluruh laporan pertanggungjawaban PWNU Jatim. Ini adalah project yang disiapkan untuk menyambut konferensi PWNU Jatim. Sayangnya, project ini tertunda. Sehingga draft penulisan sejarah NU Jatim pun mandek.
Akan tetapi, pesan-pesan beliau, menjadi hutang rasa yang tak akan bisa terbayarkan sebelum kami berhasil merampungkan tugas-tugas warisannya tersebut.
Selamat jalan, Kiai. Restui kami melanjutkan jalan ninjamu!.
Penulis : Ayung Notonegoro