Press ESC to close

Ketika Singgasana Tak Lagi Bernama: Pelajaran tentang Rapuhnya Jabatan dan Abadinya Akhlak

  • Aug 07, 2026
  • 4 minutes read
  • 14 Views

"Yang paling cepat meninggalkan manusia bukanlah usia, melainkan kekuasaan."

Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ketika seseorang memperoleh jabatan, dunia seakan berubah mengelilinginya. Pintu-pintu yang dahulu tertutup mendadak terbuka. Orang-orang yang sebelumnya menjaga jarak tiba-tiba menjadi akrab. Pujian mengalir, penghormatan diberikan, dan setiap perkataan dianggap bernilai. Sedikit demi sedikit, lahirlah keyakinan bahwa semua itu hadir karena kehebatan dirinya. Padahal, dalam banyak keadaan, yang dihormati bukanlah pribadinya, melainkan kedudukan yang sedang ia sandang.

Di sinilah letak tipuan terbesar jabatan. Ia mampu mengaburkan batas antara amanah dan kehormatan, antara identitas dan titipan. Padahal Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Swt.:

"Katakanlah: Wahai Tuhan Pemilik segala kerajaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki." (QS. Āli 'Imrān [3]: 26).

Ayat ini bukan sekadar menjelaskan pergantian pemimpin. Ia mengajarkan adab paling mendasar dalam memandang jabatan: manusia tidak pernah memiliki kekuasaan, melainkan hanya diberi kesempatan untuk memikulnya. Karena itu, kesombongan atas jabatan sesungguhnya adalah kesombongan atas sesuatu yang bukan miliknya.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa ḥubb al-jāh—cinta kepada kedudukan dan kemasyhuran—merupakan salah satu penyakit hati yang paling sulit disembuhkan. Menurut beliau, banyak manusia rela kehilangan kejujuran demi mempertahankan pengaruh. Jabatan akhirnya tidak lagi menjadi sarana menegakkan kebaikan, melainkan tujuan yang dipertahankan dengan segala cara. Ketika hati telah diperbudak oleh kedudukan, akhlak perlahan kehilangan tempatnya.

Padahal dalam khazanah Islam, kemuliaan tidak pernah diukur dari tingginya kedudukan, melainkan dari kemuliaan akhlak. Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa misi terbesar Islam bukanlah membangun struktur kekuasaan, melainkan membentuk karakter manusia. Jabatan hanyalah salah satu ruang untuk menampilkan akhlak, bukan ukuran keberhasilan seseorang.

Ibn 'Aṭā'illāh al-Sakandarī dalam al-Ḥikam berkata:

ادفن وجودك في أرض الخمول، فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه

"Kuburkanlah dirimu dalam tanah ketidaktenaran, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan menghasilkan buah yang sempurna."

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tumbuh dari keikhlasan, bukan dari sorotan manusia. Orang yang mengejar popularitas akan gelisah ketika dilupakan, sedangkan orang yang mengejar ridha Allah tetap tenang meskipun tidak dikenal.

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sama. Umar bin Abdul Aziz justru menangis ketika diangkat menjadi khalifah karena beliau memandang kepemimpinan sebagai beban pertanggungjawaban, bukan panggung kemuliaan. Sebaliknya, Fir'aun menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menyombongkan diri hingga berkata, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS. an-Nāzi'āt [79]: 24). Akhir dari keduanya sangat berbeda. Umar dikenang karena keadilannya, sedangkan Fir'aun dikenang karena kesombongannya. Jabatan mereka telah lama berakhir, tetapi akhlak mereka tetap hidup dalam sejarah.

Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah menjelaskan bahwa setiap kekuasaan memiliki siklus kelahiran, kejayaan, dan keruntuhan. Tidak ada dinasti yang kekal. Tidak ada pemerintahan yang abadi. Tidak ada organisasi yang selamanya berada di puncak. Yang bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan nilai-nilai yang ditinggalkannya. Karena itu, sejarah sesungguhnya lebih banyak mengingat karakter para pemimpin daripada lamanya mereka memimpin.

Perspektif psikologi modern juga menguatkan kenyataan tersebut. Para psikolog menjelaskan bahwa seseorang yang menjadikan jabatan sebagai pusat identitas dirinya akan mengalami guncangan hebat ketika jabatan itu hilang. Namun orang yang membangun harga dirinya di atas nilai, integritas, dan tujuan hidup akan lebih mudah menerima perubahan. Dalam bahasa Islam, identitas seorang mukmin tidak dibangun di atas jabatan, tetapi di atas iman, ilmu, dan akhlak.

Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawā'id mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah apa yang berada di tangannya, melainkan apa yang menetap di dalam hatinya. Jabatan dapat memperlihatkan siapa seseorang di hadapan manusia, tetapi akhlak memperlihatkan siapa dirinya di hadapan Allah.

Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah mengapa jabatan itu berakhir, melainkan apa yang masih tersisa setelah ia berakhir. Apakah yang dikenang orang lain adalah keadilan, kelembutan, dan keteladanan, atau justru kesombongan, fitnah, dan penindasan? Sebab sejarah tidak pernah memberikan keabadian kepada kekuasaan, tetapi selalu memberikan tempat bagi akhlak. Kursi akan diwariskan kepada orang lain, sedangkan kemuliaan budi akan diwariskan kepada zaman.

Pada akhirnya, jabatan memang dapat runtuh dengan mudah. Satu keputusan mampu mengakhirinya, satu pergantian kepemimpinan dapat mencabutnya, dan satu kesalahan dapat menghancurkannya. Namun akhlak tidak runtuh bersama berakhirnya kekuasaan. Ia tetap hidup dalam doa orang-orang yang pernah merasakan keadilan, dalam ingatan mereka yang pernah menerima kebaikan, dan dalam catatan sejarah yang tidak pernah lupa membedakan antara orang yang hanya pernah berkuasa dengan orang yang benar-benar mulia.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Mengapa Kita Masih Mengingat Orang yang Pernah Merendahkan Kita?
K.H. Ali Yafie dan Gagasan Fikih Lingkungan
Refleksi Ngaji Jawahirul Qur’an Gus Ulil (Episode 28): Ayat-Ayat Kosmis, Dialektika Evolusi, dan Membaca Ulang Narasi Keimanan
NYAI HJ. QOMARIYAH: SOSOK PENDIAM BERJIWA TANGGUH (Catatan Pertama pada Haul Simbah Nyai Hj. Qomariyah binti KH Abdul Karim, Lirboyo)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.