Akhir-akhir ini kita sering melihat berita ataupun informasi di media sosial tentang orang-orang yang tampilannya agamis, seperti story whatsaaps di kajian, caption kutipan hadis, dan yang paling sering dilihat adalah story saat ziarah. Kita pun pernah berada dalam arus itu, yakni mengunggah kutipan-kutipan bernuansa Islami, mengabadikan momen-momen ziarah, sampai pernah dianggap “bisa bahasa Arab” hanya karena sering mengunggah konten bernuansa Timur Tengah. Padahal hal itu tidak lebih dari keikutsertaan pada tren yang sedang ramai.
Baru belakangan ini saya pribadi menyadari, bahwa sebagian dari perilaku kita yang ada di media sosial termasuk dari “kesalehan instan”. Apa maksudnya? Yaitu kesalehan yang cepat tampil, mudah diproduksi, tetapi tidak selalu mencerminkan kedalaman spiritual. Semua dilakukan hanya demi terlihat agamis, bukan benar-benar paham agama. Bisa saja dia melakukan itu karena butuh validasi dari orang dan mungkin banyak alasan lain yang menjadi faktor “kesalehan Instan”.
Banyak juga anak gen-Z sekarang yang merasa perlu menguatkan spiritualnya, tapi seringnya hanya branding-nya saja yang terlihat. Ada juga yang memakai label bahwa dia dari keturunan ulama atau keturunan Rasulullah Saw. yang kemudian disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan penghormatan.
Kesalehan instan: Antara Validasi dan Riya’?
Fenomena kesalehan instan sebenarnya bukan hal baru, tapi sama dengan etika Islam klasik yang terdapat konsep riya’, yaitu melakukan amalan semata-mata untuk memperoleh pujian manusia. Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa riya’ dapat muncul secara halus. Seseorang tidak berniat pamer, namun terbiasa mengejar validasi sosial dari penampilan ibadahnya.
Media sosial menjadi ruang yang sangat subur untuk tumbuhnya bentuk riya’ modern ini, lewat likes, share, dan komentar dimana hal itu sangatlah cepat, praktis, dan langsung terlihat sama dengan mie instan yang tidak baik juga jika dikonsumsi setiap hari. Menariknya lagi, makin banyak juga figur-figur muda yang dihormati karena nasabnya yang baik. Otomatis banyak orang yang menganggap bahwa dia paham agama. Padahal jika dijalani, kemampuan dalam memahami agama itu tidak turun temurun.
Akar masalah ini dari media sosial yang menciptakan ruang dimana citra jadi lebih penting dibandingkan esensi. Jadinya agama pada saat ini adalah sebagai filter yang dalam sekejap bisa menjadikan seseorang bisa tampil lebih religius daripada aslinya. Padahal, kesalehan yang benar itu dia yang tidak mau terlihat bahwa dia saleh. Rasulullah Saw. telah menegaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Kesalehan di era seperti ini terlihat indah di layar, namun tidak untuk di dalamnya. Kadang kita semua perlu jujur, kita seperti ini karena Allah Swt. atau hanya karena ingin memperbaiki citra dunia?. Agama bukan dekorasi, dan kesalehan bukanlah estetika digital. Kesalehan juga tidak lahir dari story maupun unggahan, tidak juga dari label keluarga ataupun orang yang kita cinta. Kesalehan sejati tumbuh dari proses panjang, dia lahir dari kemauan yang konsisten dan niat yang tak pernah terlihat oleh siapapun. Jika memang ingin branding agamis luar dan dalam, maka biarkan orang lain yang menilai, bukan hanya melihat saja.
Pada akhirnya, yang nanti menilai bukan pengikutmu yang ada di media sosial, melainkan Tuhan. Dan Tuhan tahu mana yang “Lillahi Ta’ala” dan mana yang hanya sekedar pencitraan di dunia maya.
Penulis: Raissa Syifa Azalia, merupakan mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya