Perkembangan zaman dan arus informasi menjadi salah satu tantangan yang cukup besar dalam dunia pendidikan. Adapun penyesuaian kurikulum yang berbasis pada kebutuhan zaman dapat menjadi jawaban dalam membekali siswa untuk navigasi informasi yang kompleks dan terus berubah, yang kemudian dirumuskan dalam goals berupa pendidikan karakter dalam profil pelajar pancasila dan rahmatan lil’alamin. Bertajuk Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan, peringatan Hari Santri Nasional 2024 tahun ini menjadi salah satu momentum yang tepat untuk membantu pembentukan karakter pelajar yang salah satunya berupa Qudwah atau keteladanan. Sejatinya, keteladanan ini membutuhkan kehadiran figur yang dapat berinteraksi secara langsung, namun tidak menutup kemungkinan dapat diperoleh melalui kisah historis yang membantu peserta didik dalam meneladani figur.
Adapun Qudwah dalam Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin merujuk pada peran siswa sebagai teladan yang baik bagi lingkungan sekitar, baik dari segi akhlak, perilaku, maupun tindakan. Qudwah menekankan pentingnya menjadi contoh yang positif dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan nilai-nilai moral dan etika Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu membawa rahmat dan manfaat bagi semua makhluk. Dalam konteks ini, peserta didik tidak hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu menjadi figur yang menginspirasi kebaikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang universal.
Penanaman nilai ini salah satunya dapat dilakukan dengan ziarah yang menjadi sarana pendidikan karakter bagi peserta didik dengan mengenalkan mereka pada figur teladan. Kegiatan ini mengajak peserta didik untuk merenungi kehidupan tokoh-tokoh tersebut, memahami perjuangan dan pengorbanan, serta meneladani sifat-sifat mulia seperti ketakwaan, keberanian, dan ketulusan. Selain itu, ziarah kubur juga mengajarkan nilai adab, etika dan penghormatan kepada orang-orang yang telah berjasa serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya meneruskan kebaikan dan amal yang bermanfaat bagi orang lain.
[caption id="attachment_14642" align="aligncenter" width="600"]
Foto: Ziarah dan Tabarrukan Siswa MI Afkaaruna Islamic School di Maqbarah KH Mufid Mas’ud Pandanaran[/caption]Adapun pada peserta didik tingkat dasar, terkadang nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi khusus, misalnya pada kegiatan ziarah dan tabarrukan siswa MI Afkaaruna Islamic School di Maqbarah KH Mufid Mas’ud Pandanaran, seorang santri kelas V yang seketika bercerita dengan antusias selepas dari kegiatan tersebut tentang keinginannya untuk menjadi sosok yang tidak pernah marah, merujuk pada cerita historis yang disampaikan salah satu educator sebelum do’a bersama dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut dapat menjadi motivasi dalam pendalaman karakter peserta didik di usia dasar.
[caption id="attachment_14643" align="aligncenter" width="600"]
Foto: Ziarah dan Tabarrukan Siswa MI Afkaaruna Islamic School di Maqbarah KH Mufid Mas’ud Pandanaran[/caption]Kompleksitas aspek dalam pembentukan karakter peserta didik bukanlah hal yang dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, tentu butuh integrasi dan pola pengulangan serta pembiasaan dengan berbagai macam kegiatan, aktivitas maupun bagaimana cara mengamati sosial dan lingkungan sekitar serta kolaborasi berbagai pihak. Melalui kerjasama yang sinergis dan holistik ini diharapkan pendidikan karakter akan lebih efektif, sehingga anak tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. []