Press ESC to close

Daun yang Tak Gugur

Daun apa yang tidak pernah jatuh walau sudah mengering?" tanya seorang teman mengutip pertanyaan Nabi Muhammad saw pada beberapa sahabatnya.

"Masak sih, ada daun yang tidak jatuh?" ia agak heran dengan pertanyaan teman tadi.

"Ada dong..., daun itu tidak jatuh sesuai dengan kerasnya kehidupan pohon itu. Ia tumbuh di tanah yang gersang, matahari yang selalu membakar, bebatuan yang menghimpitnya, membuat dedaunannya begitu tangguh!" Ia mencoba menjelaskan dan memancing jawaban yang mengarah pada yang diinginkan.

"Pohon kurma!" teriak teman yang di sampingnya.

"Benar, ia pohon begitu istimewa, tidak hanya bermanfaat untuk fisik manusia, tapi ia juga memberikan nutrisi pada psikis manusia yang mampu mengambil mengambil ibrah dari kehidupannya". Ia membenarkan jawaban temannya yang duduk sambil menyeruput kopi biji kurma dan tersenyum puas.

Berbagai masalah yang menimpa seseorang jangan diartikan sebagai siksaan pada baginya. Bisa saja, ia sebuah latihan untuk membuatnya tangguh dalam menghadapi kehidupan yang keras. Bukankah orang yang berlatih keras dan sungguh-sungguh, akan menjadi manusia yang tangguh, mampu menaklukkan pedang, dan bahkan pedang bagian dari tubuhnya. Darah laksana pewangi dalam setiap jengkal tubuhnya.

Orang yang lagi menghadapi berbagai masalah, dan ia berfikir Allah melatihnya untuk tangguh, maka ia akan menerima dengan indah. Karena tidak ada manusia hebat yang lepas dari berbagai masalah dan cobaan hidup.

Semakin besar cobaan dan masalah yang dihadapi, semakin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan. Dan nantinya, ia akan menjadi seseorang yang tahu banyak hal, dan menghadapinya kerasnya hidup dengan biasa-biasa saja. Di saat orang-orang menganggapnya aneh dan luar biasa, ia malah tersenyum, bahwa semuanya telah ia hadapi dengan sabar.

Biji kurma ditanam di dalam pasir sekitar 2 sampai 3 meter. Suasana pasir yang gersang, dengan terpaan angin yang keras, sinar matahari yang menyengat dan juga dingin yang mencengkram. Belum selesai. Biji itu tidak hanya ditanam, tapi di atasnya tindih dengan bebatuan yang keras. Ia benar-benar di tanam dalam kondisi keras.

Apakah ia mengering dan mati? apakah bijinya mengecil dan ringkih?. Tidak. Ia menguatkan diri, akar-akarnya menancap kuat ke bawah, mencari sisa-sisa air hujan yang mungkin terserap di balik pasir-pasir yang gersang itu. Semakin ia ditekan, ia semakin kuat. Ketika ia merasa akarnya kuat, kemudian ia bertunas. Ia menampakkan tubuhnya yang lucu ke permukaan pasir, memecah bebatuan yang menghimpitnya berbulan-bulan. Tersenyum menyambut matahari yang tak lelah datang bertubi-tubi.

Demikian seterusnya, ia sudah terbiasa dengan dingin dan panas yang ekstrim. Tak lagi galau dengan berbagai masalah, hujan yang lama tak datang, ia tetap tersenyum. Pasir yang menyiram setiap saat ia tak kendor, sinar perih matahari pun, buliran hujan yang indah.

Begitulah seseorang yang terus sabar dalam menghadapi berbagai masalah.

**
Teruntuk jamaah haji 2022, selamat menikmati dedaunan kurma yang terus melambai, menyambutnya dengan Labbaik Labbaik Allahumma Labbaik. []

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Samudra Rahmat Kasih Sang Pencipta
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.