Press ESC to close

Berpuasa Berdampak (the Impactful of Fasting Ramadan)

Dalam kitab Asroru Shoum (Imam al-Ghozali) dan Maqoshidus Shoum (Imam Izzuddin Abdussalam) sebagai referensi akan rahasia Puasa Ramadan dan referensi yang paling utama sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Mengapa dan bagaimana puasa kita selama puluhan tahun kita lakiukan dan dampaknya yang kita rasakan saat ini agar tidak saja menjadi pengalaman berpuasa Ramadan (the experience of fasting Ramadhan). Kenapa karena kita sudah melewati proses puasa tersebut (we have been through the process of fasting Ramadan) tentu dan sudah seharusnya menurut pakar auto-etnoghraphy (Prof, Liamputong) dari Monash University ada proses knowledge translation yang disebut the lived experiences sesuatu yang membekas atau menjadi habit pasca puasa Ramadan.

Untuk itu, dalam pembahasan yang singkat ini saya mencoba menguraikan strategi bagaimana puasa berdampak tersebut dapat diraih. 

Pertama, puasa dapat berdampak dengan mengondisikan jasmani dan ruhani kita. Untuk itulah ada tradisi yang sangat baik yaitu saat mau memasuki bulan suci Ramadan utamanya di bulan Safar dan Sya’ban ada semacam  warming up sebelum datangnya bulan suci Ramadan. Ibarat ujian masuk Perguruan Tinggi ataupun CPNS, maka kita telah melakukan semacam try out dan latihan-latihan sebelum datangnya bulan suci Ramadan.

Ada berbagai rangkaian acara Tarhib yang dilakukan di beberapa tempat. Dalam setiap kegiatan tarhib kita selalu diingatkan beberapa kata kunci agar puasa kita sukses dan tidak “dibajak” sesuatu di luar esensi puasa. Intinya knowledge tentang puasa tentu sudah kita kuasai dengan baik untuk memasuki bulan suci Ramadan.    

Peserta yang telah melakukan persiapan dibandingkan yang tidak, maka tingkat keberhasilannya tentu lebih tinggi atau memiliki peluang lebih sukses dibandingkan yang tidak. Untuk itu selamat karena kita sudah memasuki bulan suci Ramadan saat ini. Untuk diketahui bahwa menjadi peserta yang bisa memasuki bulan suci Ramadan dengan modal “Bahagia”  akan datangnya bulan Suci Ramadan sudah beruntung karena diharamkan jasadnya dari api neraka.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadis yang sangat popular “Man Farikha bi dukuhulil Ramadhan Harama Jasaduhu alan niron”. Ini berarti sudah ditakdirkan ikut puasa Ramadan saja sudah beruntung, apalagi lalu menjadi peserta yang aktif bukan yang pasif.  Oleh karena itu salah satu asror atau rahasia agar bisa mendapatkan hikmah akan  datangnya tamu istimewa bulan puasa Ramadan adalah menjadi peserta yang aktif bukanlah yang pasif. 

Aktif menebarkan kebaikan dan amalan-amalan selama bulan suci Ramdan, aktif juga menebarkan Ramadan yang mendatangkan kedamaian, ketenangan dan kenyamanan. Jika kita punya tamu Istimewa, namun  tidak disambut dengan gembira, bahkan dicuekin, kira-kira tamu Istimewa tersebut akan memberikan sesuatu tidak buat kita? Oleh karena itu, Istafti Qolbak, tanyalah kepada hatimu atau diri kita sendiri. Sudahkah puasa Ramadan ini kita perlakukan secara Istimewa dan dengan penuh antusias atau biasa-biasa saja. 

Kedua, untuk mendapatkan puasa yang berdampak maka kita harus dapat beranjak, take off dari puasa yang sifatnya procedural knowledge, menuju puasa yang sifatnya Divine Fasting. Puasa yang sifatnya procedural knowledge hanya berorientasi pada  syarat dan rukun serta sahnya puasa saja. Sepanjang secara ukuran fikih sudah sah, maka itu yang menjadi ukuran dan tujuan-nya. Untuk itu, agar puasa yang dilakukan tidak lagi terjebak dalam persoalan ritual ini, maka lived experiences yang pernah kita alami berpuluh-puluh tahun harus dapat menjadi acuan dan perbaikan agar puasa tahun ini dapat diperbaiki lagi, from good toward great of fasting Ramadhan. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar puasa kita terus membaik bahkan lebih baik adalah, berupaya merubah existing habit yang buruk menuju current habbit, yang lebih baik. Sehingga sangat keliru jika berpuasa dijadikan sumber justifikasi untuk bermalas-malasan, justru environment puasa ini harus dapat mendorong kita berbuat jauh lebih baik lagi. Hal ini dikarenakan puasa Ramadan adalah divine month yang membuka nilai-nilai karakter kebaikan universal antara lain menjadi pribadi penyabar, pemaaf, toleran, moderat dan nilai-nilai positif lainnya. 

Ketiga, terus berharap bedo’a kepada Allah SWT sang pemberi Ijazah puasa. Hal ini dikarenakan bahwa Ibadah puasa yang kita lakukan ini berbeda dengan jenis-jenis ibadah yang lain.  Untuk pahala ibadah selain puasa Ramadhan seringkali dinampakkan begitu pula cara mengerjakannya dapat diketahui oleh publik. Orang beribadah sholat kelihatan, appearance saat sholat baik gerakannya dan juga pahala sholat berjamaah dikatakan lebih afdhol daripada sholat sendiri dengan 27 derajat. Begitupula orang beribadah haji akan terlihat saat berpergian saat walimah safar, dan pahalanya juga di state secara khusus yakni surga dan diampuni segala dosa-dosanya,  al-Hajjul Mabruru laisa lahu Jazaaun Illa al-Jannah. Namun tidak  dengan puasa Ramadan, Allah SWT mengatakan dalam sebuah Hadis Qudsi, bahwa puasa itu urusanku dan saya-lah (kata Allah SWT) yang akan memberikan pahalanya (Asshoumu lii Wa ana Ajzi bihi).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menghasilkan puasa yang berdampak (the impactful of fasting Ramadhan) harus didahului dengan pengetahuan tentang puasa Ramadan utamanya adalah mengangkat pengalaman puasa Ramadan (the experience of fasting Ramadhan) yang pernah dilakukan berpuluh-puluh tahun menjadi puasa yang “berkesadaran” (the awareness of fasting Ramadhan). 

Dengan kesadaran penuh datangnya tamu Istimewa bulan suci Ramadan, maka yang dilakukan dalam merespon puasa Ramadan adalah menjadi peserta aktif tidak pasif. Aktif dalam menebarkan ajaran-ajaran universal agama, seperti kejujuran, kasih sayang dan energi cinta kepada sesama. 

Puasa Ramadhan yang dilakukan dengan penuh kesadaran tentu akan dapat mentransformasi setiap pribadi menjadi peka terhadap lingkungan sosialnya, ber-empati dan ringan membantu kepada sesama serta selalu berupaya menjadi pribadi yang di dalam dirinya selalu menebarkan kedamaian, energi cinta dan kasih sayang dimana saja berada. Lets Contributing to Peace Together Through Fasting Ramadhan. Salam Kerukunan dan Kedamaian. 

M. Adib Abdushomad

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Setjend-Kementerian Agama RI

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.