Press ESC to close

Bermain Saham dalam Perspektif Ulama Kontemporer

Saham adalah sebuah bukti kepemilikan terhadap sebuah perusahaan. Kata saham sendiri diambil dari bahasa arab. Dalam literatur fiqih, saham diambil dari kata سهم bentuk jamaknya اسهم atau اسهام yang artinya bagian, bagian kepemilikan. Artinya pemilik saham adalah pemilik perusahaan.

Di era digital seperti sekarang ini investasi saham sangat digemari masyarakat, terutama semenjak pandemi covid-19. Menurut CNN, selama pandemi investor saham naik 42%.

Kelebihan bermain saham adalah keuntungan/laba yang lebih tinggi dibandingkan instrumen investasi yang lain seperti deposito atau obligasi, tapi di sisi lain resikonya juga tinggi (High risk, High return).

Sebenarnya bagaimanakah hukum bermain saham dalam perspektif fikih?

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, ulama kontemporer yang pendapatnya menjadi rujukan para ulama indonesia, menulis dalam kitabnya yang sangat terkenal, Fiqhul Islami Wa Adillatuhu: Jual beli saham diperbolehkan dengan beberapa syarat :

1. Perusahaan yang sahamnya diperjual-belikan harus memiliki produk yang tidak dilarang oleh syariat, maka saham dari PT. Multi Bintang Indonesia TBK (MLBI) haram diperjual-belikan karena produknya di larang oleh syariat (Minuman keras).

2. Harganya harus jelas, biasanya minimum pembelian saham adalah 1 lot saham. Dalam 1 lot saham berisi 100 lembar saham. Harga per lembar sahamnya harus jelas, jika harganya tidak jelas seperti harga saham menunggu likuidasi terlebih dahulu maka hukum jual belinya haram.

3. Penjual saham atau wakilnya (Broker) harus jelas. Salah satu indikasi jelasnya broker adalah terdaftarnya broker di Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) jika tidak jelas maka hukumnya adalah haram.

Kalau memenuhi 3 syarat di atas maka hukum jual beli saham adalah mubah/diperbolehkan. []

Referensi:

فقه الاسلامي وادلته ص ٥٠٣٦ ج ٧
أما الأسهم: فهي حصص الشركاء في الشركات المساهمة، فيقسم رأس مال الشركة إلى أجزاء متساوية، يسمى كل منها سهما، والسهم: جزء من رأس مال الشركة المساهمة، وهو يمثل حق المساهم مقدرا بالنقود، لتحديد مسؤوليته ونصيبه في ربح الشركة أو خسارتها. فإذا ارتفعت أرباح الشركة ارتفع بالتالي ثمن السهم إذا أراد صاحبه بيعه، وإذا خسرت انخفض بالتالي سعره إذا أراد صاحبه بيعه

ويجوز شرعا وقانونا بيع الأسهم، بسعر بات، أما إذا كان السعر مؤجلا لوقت التصفية فلا يجوز البيع لجهالة الثمن، لأن العلم بالثمن شرط لصحة البيع عند جماهير العلماء. وأجاز الإمام أحمد وابن تيمية وابن القيم البيع بما ينقطع عليه السعر، قياسا على القول بمهر المثل في الزواج، وأجر المثل في الإجارة، وثمن المثل في البيع، وعملا بالمتعارف، وبما يحقق مصالح الناس. أما بيع الأسهم على المكشوف، أي إذا كان البائع لا يملكها في أثناء التعاقد، فلا يجوز، للنهي الثابت شرعا عن بيع ما لا يملك الإنسان

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.