Bondowoso, (Pesantren.Id) – Sejarah penetapan Hari Santri Nasional dan peran sejumlah tokoh dalam mengawal gagasannya menjadi pembahasan dalam kegiatan Ngaji Nasionalisme yang digelar Himpunan Mahasiswa (HIMA) Fakultas Hukum Universitas Bondowoso (UNIBO), Kamis (22/10/2026).
Dalam diskusi publik yang berlangsung di halaman Kampus UNIBO tersebut, Wakil Ketua DPRD Bondowoso sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, S.Sos., M.M., memutarkan rekaman keterangan Prasetyo Marhen, pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Batu. Rekaman itu mengisahkan rangkaian perjuangan penetapan Hari Santri, termasuk peran Ahmad Basarah dalam mengawal gagasan tersebut.
Dalam rekaman itu, Prasetyo menceritakan peristiwa yang bermula ketika Ahmad Basarah berpindah daerah pemilihan dari Banyuwangi ke Malang Raya. Dalam rangkaian kegiatan kampanye, Basarah bertemu dengan pemilik Pondok Babussalam yang disebut sebagai alumni GMNI dari UIN sekaligus senior sejumlah tokoh.
Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai gagasan Hari Santri. Pemilik Pondok Babussalam diceritakan telah menyampaikan gagasan itu kepada sejumlah tokoh, termasuk Anas Urbaningrum dan tokoh Golkar. Dalam konteks tersebut, Basarah disebut menyampaikan harapan agar perjuangan untuk merealisasikan gagasan Hari Santri dapat dilakukan bersama-sama.
Kisah dalam rekaman berlanjut menjelang Pemilihan Presiden 2014. Ketika Joko Widodo direncanakan mengunjungi makam Bung Karno, Basarah mengingat kembali diskusi mengenai Hari Santri. Bung Hudin dan Bung Rohman kemudian diajak mengupayakan agar Jokowi juga berkunjung ke Pondok Babussalam.
Menurut cerita dalam rekaman, pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses munculnya kesepakatan politik mengenai penetapan Hari Santri apabila Jokowi terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia.
Pada awalnya, tanggal 1 Muharam sempat diusulkan sebagai Hari Santri. Namun, setelah Jokowi terpilih sebagai presiden, pemerintah melakukan pembahasan bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan berbagai kalangan umat Islam. Dari proses tersebut, pemerintah akhirnya menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Tanggal 22 Oktober memiliki makna historis karena berkaitan dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Rekaman tersebut juga mengaitkan perjuangan penetapan Hari Santri dengan peran Ahmad Basarah dalam mendorong penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Kisah itu menjadi bahan diskusi mengenai dinamika perjuangan politik dan kebangsaan dalam mendorong pengakuan negara terhadap momentum bersejarah.
Selain pemutaran rekaman, Sinung menyampaikan pesan kepada mahasiswa tentang pentingnya menjaga ingatan sejarah. Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian penting dalam memahami perjalanan bangsa dan membentuk kesadaran generasi muda.
“Jangan sekali kali meninggalkan sejarah, jika kau meninggalkan sejarah, maka kau akan digilas sejarah itu sendiri, karena sejarah itu akan terus berulang,” ujar Sinung.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan dosen Fakultas Hukum UNIBO, Achmad Abrari, S.H., M.H., sebagai pemateri. Diskusi dipandu oleh Moh. Haris T. Rahman, S.H., M.H., selaku Ketua LPPM sekaligus Ketua Program Studi Hukum UNIBO.
Sebelum diskusi publik dimulai, acara diawali dengan panggung Mimbar Bebas yang menampilkan pegiat seni muda Bondowoso. Mereka membacakan puisi-puisi bertema kesantrian dan nasionalisme sebagai bagian dari refleksi kebangsaan dalam memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa Universitas Bondowoso, Universitas At-Taqwa Bondowoso, INAISTA, IAI Darul Falah, UNEJ Kampus Bondowoso, serta masyarakat umum.
Melalui Ngaji Nasionalisme, HIMA Fakultas Hukum UNIBO menghadirkan ruang untuk membahas sejarah Hari Santri Nasional, kisah perjuangan yang mengiringi penetapannya, dan peran tokoh-tokoh yang disebut dalam rekaman. Forum tersebut sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk merawat sejarah serta memperkuat pemahaman tentang hubungan nasionalisme, perjuangan politik, dan identitas kebangsaan.