Dalam literatur hadis, terdapat sebuah riwayat yang kuat maknanya dan sering luput dari perhatian. Riwayat ini membuka pemahaman penting tentang doa, keikhlasan, dan batasan dalam praktik ibadah. Hadis tersebut diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, yang menceritakan sebuah peristiwa sederhana tetapi berdampak besar dalam pandangan syariat.
Seorang ahli ilmu pernah mengatakan bahwa sebagian dari mereka, sahabat-sahabat Nabi, jika bangun tidur dan melihat keluarganya memiliki sesuatu (kekayaan), maka mereka akan merasa sedih. Akan tetapi, jika mereka tidak memiliki apa pun, mereka merasa gembira dan bahagia.
Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh seorang yang mendekatkan diri kepada Tuhan adalah menjaga hati. Mengapa demikian? Karena hati layaknya seperti pintu yang harus dijaga khususnya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan. Jika ada perkara berbahaya yang mendobrak pintu, maka kemungkinan rusaklah segala apa yang ada di balik pintu. Begitulah gambaran hati.
Nilai keseimbangan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya, bagaimana si kaya harus membantu yang miskin? Demikian juga bagaimana si miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain.
Cara menguatkan tekad ini adalah dengan senantiasa mengingat Allah Swt dan berpikir positif atas segala yang telah Allah berikan. Ingat kepada Allah ini adalah satu dari sekian banyak cara yang bisa kita lakukan supaya tetap konsisten.
Pastinya banyak diantara kita yang menginginkan dekat dengan Tuhan, tetapi banyak dari kita yang tidak paham dan tidak mengetahui bagaimana cara dan langkah awal untuk mendekati-Nya
Kriteria yang membentuk seorang pemimpin sangat penting dalam studi politik Islam sunni, terutama yang berkaitan dengan periode Imam Al-Ghazali. Pemimpin biasanya dinilai berdasarkan dua kriteria utama: keturunan Quraisy dan keahlian khusus.