Press ESC to close

Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan

Tanggal 24 Ramadhan 1351 H, bertepatan 8 Januari 1933 M, dikenang sebagai hari wafat KH M Mashum Ali. Jenazahnya dimakamkan di kompleks maqbaroh Pesantren Tebuireng. Kiai produktif menulis ini meninggal dunia dalam usia 46 tahun.

Kiai ini adalah cucu dari KH Abdul Jabbar, pendiri Pesantren Maskumambang Gresik. Setelah menikah dengan Nyai Choiriyah, putri pertama Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari Tebuireng dan Nyai Nafiqoh, tahun 1921 Kiai Mashum bersama sang istri mendirikan Pesantren Seblak. Lokasinya sekitar 200 meter barat dari Pesantren Tebuireng. 

Kiai Mashum kelahiran tahun 1887. Dia adalah santri generasi pertama dari Pesantren Tebuireng di era pendiri Hadratussyaikh. Kecerdasan, ketekunan dan kerendahan hati Kiai Mashum muda menjadikan Hadratussyaikh terpikat dan menjadikannya sebagai menantu pertama. Tidak salah pilih, Kiai Mashum akhirnya menjadi orang kedua” di Tebuireng dalam hal rujukan soal hukum Islam setelah Hadratussyaikh.

Karya Mendunia

Meski hidup sederhana di desa, karya-karya Kiai Mashum telah membuka cakrawala ilmu-ilmu keislaman. Terutama bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia, juga dunia internasional. Kitab al-Amtsilah al-Tashrifiyah salah satunya, yang kemudian terkenal dengan Tasrifan Jombangan.

Kitab ini berukuran kecil tapi sangat dikenal di dunia pesantren, terutama dalam mengenal ilmu shorof. Penamaan Tasrifan Jombang karena penulisnya berasal dari Jombang. Sebelumnya sudah banyak tasrifan-tasrifan dari daerah lain. Saat Tasrifan Jombangan muncul, tasrifan-tasrifan lainnya seolah tenggelam. 

Kitab Tasrifan Jombangan ini dicetak dalam ukuran besar dan ukuran buku saku. Tebalnya sekitar 60 halaman. Penerbit kitab ini awalnya ada dua, yaitu Salim Nabhan Surabaya di tahun 1950-an dan Alawiyah Semarang. Setiap terbitan memuat kata pengantar Prof. Saifuddin Zuhri, menteri agama di akhir Orde Lama. Sekarang Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak juga sudah menerbitkan edisi sendiri. 

Ketika menyusun Tasrifan Jombangan ini, Kiai Mashum masih berusia 19 tahun. Menurut direktur Islam Nusantara Center Jakarta A. Ginanjar Syaban (2018), kitab ini hingga sekarang masih digunakan. Bahkan dihapal oleh ribuan pesantren dan telah mengantar jutaan santri ke gerbang keilmuan Islam.

Kitab Tasrifan Jombangan juga terbukti sangat membantu dalam memahami teks-teks berbahasa Arab. Menurut mudir Madrasatul Quran Tebuireng KH A Mustain Syafii (2018), Kiai Mashum sangat jeli dalam menyusun kitab ini per bab. Standar yang digunakan adalah rumusan internasional yang sangat praktis.

Tasrifan Jombangan tidak hanya menampilkan ilmu saja. Namun juga filosofis cara mencari ilmu. Kata yang dibuat contoh (mauzun) mengisyaratkan hal ini. Mulai dari kata mengerjakan (faala), memukul (dharaba), membuka (fataha), memahami (alima), menjadi baik (hasuna) dan hasiba.

Jika diteliti, ternyata sistematika kitab ini memuat makna yang sangat tinggi. Kitab ini bukan saja memiliki sistematika penulisan yang unik. Namun memiliki filosofi pengajaran perilaku kehidupan. Salah satu contoh bisa dilihat pada fiil tsulasi mujarrad, misalnya, dalam enam kalimat yang disebut ternyata mengandung filosofi kehidupan. 

Hingga sekarang, kitab ini masih dijadikan referensi dalam halaqah-halaqah di Masjid Al-Azhar Kairo Mesir. Menurut Nadhif Fuaduddin (2018), alumni Universitas Al-Azhar Kairo, banyak mahasiswa di sana yang juga mengikuti pengajian dengan sistem halaqah. Biasanya pengajian itu dibedakan berdasarkan bidang keilmuan, seperti tafsir, hadits, fikih, bahasa Arab dan sebagainya. Kitab Tasrifan Jombangan ini masuk dalam bidang keahlian bahasa Arab, tepatnya ilmu shorof. 

Kiai Produktif 

Selain kitab al-Amtsilah al-Tashrifiyah, Kiai Mashum juga menulis kitab Fathul Qadir fi al-Ajaib al-Maqadir tentang ukuran Arab ke bahasa Indonesia dan Badiah al-Mitsal fi al-Hisab al-Sinin wa al-Hilal. Karya keempat Kiai Mashum berjudul al-Durus al-Falakiyah, yang secara sistematis dan konseptual menjelaskan tentang astronomi (falak). Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi matahari dan sebagainya. 

Tidak heran jika Pesantren Seblak menjadi rujukan ilmu falak sebelum NU mendirikan Lembaga Falakiyah (LF) tahun 1984. Terutama dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal. 

Menurut Ayung Notonegoro (2025), dulu para kiai-santri ahli falak dari Pesantren Seblak berkumpul di dalam wadah bernama Riyadhatut Thalabah. Kiai Mashum menjadi tokoh utama dari perkumpulan ini.

Hasil hisab dan rukyah dari Riyadhatut Thalabah kemudian dimuat di Swara Nahdlatoel Oelama. Ini adalah majalah terbitan milik PBNU. Di antaranya adalah edisi No. 6 dan No. 8 Tahun I, 1346 H.

Penggerak NU Jombang

Selain produktif menulis, Kiai Mashum dikenal sebagai penggerak organisasi NU di Jombang. Ini karena sejak didirikan tanggal 14 Dzulqaidah 1436 H (4 Mei 1928 M), nama Kiai Mashum ditunjuk sebagai Katib Syuriah PCNU Jombang periode pertama.

Penunjukkan nama Kiai Mashum bukan sekedar kedekatan dengan Hadratussyaikh. Namun lebih kepada kualitas keilmuan yang diakui 150 kiai lainnya yang hadir di Masjid Jami Kauman Utara. Sehingga diharapkan kepengurusan PCNU Jombang periode pertama ini mampu berjalan sesuai harapan.

Selain nama Kiai Mashum, menurut Ayung Notonegoro (2024), di jajaran syuriah ada nama KH Anwar Alwi Paculgowang sebagai rais dan Kiai Abdullah Mashum menjadi wakil rais. Sedangkan nama Kiai Bisri Syansuri Denanyar jadi wakil katib. Anggota jajaran awan tercatat nama Kiai Yaqub Sambong, Kiai Abu Ahmad Jelakombo, Kiai Abdul Rouf Jagalan, Makh, Umar Said, Shodiq dan Hasbullah Denanyar.

Pada jajaran tanfidziyah, ketua dijabat H Asyari dengan wakilnya H Sofwan. Sekretaris dijabat Suratman, wakil sekretaris Mashudi, bendahara H Yusuf, wakil bendahara H Syukron, semuanya dari Kauman. Sedangkan di jajaran mustasyar, disetujui nama Hadratussyaikh dan Habib Muhsin bin Hasan al-Saqaf. 

Kiai Mashum memang sudah meninggal dunia. Namun karya dan keteledanan yang sudah ditunjukkan wajib dikenang dan diabadikan bagi generasi penerus bangsa, terutama kaum muda nahdliyin. Tantangan berat kemajuan zaman ke depan harus dijawab dengan penguasaan ilmu. Dan, Kiai Mashum sudah membuktikannya.  

 

Oleh: Mukani, Dosen IAI-UW Bulurejo Jombang dan Pengurus Lembaga Talif wan Nasyar (LTN) PWNU Jawa Timur

 

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Samudra Rahmat Kasih Sang Pencipta
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.