Press ESC to close

Sebelum Lahir, Mbah Maimoen Sudah NU

KH Maimoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen Sarang, sudah Menganut NU sebelum dilahirkan.

Berawal dari, Nyai Khairiyah Hasyim yang merupakan putri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang dinikahkan dengan Kiai Ma’shum Ali (dari keluarga Pesantren Maskumambang). Setelah Kiai Ma’shum Ali wafat, ia dinikahkan dengan Syaikh Muhaimin al-Lasemi, pendiri Madrasah Darul Ulum dan pengajar di Masjidil Haram.

Sebelum prosesi pernikahan antara Nyai Khairiyah dengan Syaikh Muhaimin al-Lasemi, keluarga Jombang yang diwakili oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri berkunjung ke Pesantren Sarang (25 Oktober 1928 M) untuk menemui guru Syaikh Muhaimin al-Lasemi (Kiai Ahmad al-Sarani dan Kiai Syuaib al-Sarani).

Dalam pertemuan tersebut bertepatan dengan detik-detik lahirnya Kiai Maimoen Zubair (28 Oktober 1928 M). Waktu itu, Kiai Ahmad tidak mau ketinggalan mengambil berkah ketiga kiai tersebut. Ia mengambil air untuk dimintakan berkah doa dari ketiga kiai Jombang tersebut untuk diminumkan kepada putrinya, Nyai Mahmudah yang sedang mengandung jabang bayi Kiai Maimoen Zubair.

Setelah Kiai Maimoen Lahir, Kiai Syuaib memerintahkan kepada Kiai Zubair untuk mentahnikkan dan meminta berkah doa kepada Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Faqih Maskumambang, yang mana keduanya adalah pendiri Nahdlatul Ulama yang dipilih secara aklamasi sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama dan wakilnya.

Oleh sebab itu, maka tidak mengherankan jika Kiai Maimoen Zubair pernah mengatakan, “Aku iki wes NU sak durunge dilahirno.”

 

Penulis : Amirul Ulum

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Ngaji Adabu Sulukil Murid: Mengakui Kesalahan, dan Bertaubat kepada Tuhan.
KH. Abdul Muhith dalam Sejarah Pendirian Ma'ahid dan TBS

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.