Press ESC to close

Kisah Dibalik Contoh Zaid dan Amr dalam Kitab Nahwu

Bila kita membuka dan membaca kitab-kitab nahwu seperti al-Jurumiyah, ‘Imrithi, atau Alfiyah ibn Malik, seringkali kita menemukan bahwa mayoritas contoh-contoh di dalamnya menggunakan nama “Zaid” dan “Amr”, seperti contoh berikut:

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا

"Zaid telah memukul Amr"

[Tulisan Amr = عمرو. Ada tambahan wawu agar tidak dibaca Umar]

Nah, Syekh Musthafa Luthfi al-Manfaluthi dalam kitab "an-Nadharat" (1/307) mengisahkan cerita dibalik contoh “Zaid” dan “Amr” yang selalu disebut-sebut dalam kitab nahwu

***

Daud Basya, salah seorang wazir dinasti Usmaniyah, mulai tertarik belajar bahasa Arab. Si Daud [tulisan arabnya= دود, asalnya = دوود. Salah satu wawu dibuang untuk diringankan] menghadirkan guru Nahwu yang alim untuk memperdalam ilmu tersebut.

Ketika sampai di suatu pelajaran, ia menjadi overthinking. Penyebabnya adalah suatu kalimat yang mengganjal di pikirannya, yaitu:

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا

"Zaid telah memukul Amr"

 Lalu ia tanyakan kemusykilannya kepada gurunya:

"Tadz, seberapa besar kesalahan  yang diperbuat oleh Amr, sehingga ia harus mendapat hukuman pukulan?Sehina itukah Amr sehingga Zaid bebas memukulnya dan ia tak bisa membalas apa-apa"

"Owh ya ndak lah. Ini kan cuma contoh saja agar pelajar memahami materi ini, paduka" Begitu jawaban dari sang guru. Standar.

Karena tidak puas dengan jawaban itu, sang wazir marah dan memenjarakan gurunya. Otoriter memang. Akhirnya dia mendatangkan seluruh guru nahwu seantero negeri  untuk ditanya dengan pertanyaan yang sama. Semua menjawab  sama persis dengan jawaban guru pertama. Begitu pula nasib mereka pun sama: DIPENJARA.

Efeknya pun luar biasa. Penjara penuh dan madrasah seantero negeri mulai mengalami krisis guru nahwu. Akhirnya Daud Basya menyuruh utusan untuk membawa para ahli nahwu dari kota Baghdad. Ia pun menanyakan kembali pertanyaan di atas kepada mereka. Pimpinan mereka yang bijaksana dan memiliki jam terbang tinggi akhirnya menemukan jawaban cerdas:

"Kesalahan terbesar Amr adalah karena ia telah mencuri huruf wawu yang seharusnya itu milik anda, wahai yang mulia!"

Cerdas kan? Ia mengisyaratkan adanya huruf wawu di kalimat Amr setelah huruf ra’, dan huruf wawu yang saharusnya ada 2 di kalimat daud sekarang hanya sisa 1 karena dicuri Amr!

Singkat cerita, si wazir kagum dan bersedia memberikan hadiah apa saja yang diinginkan ulama tadi. Namun beliau hanya ingin ulama yang kadung dipenjara dibebaskan. [HW]

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Ngaji Adabu Sulukil Murid: Mengakui Kesalahan, dan Bertaubat kepada Tuhan.
Mengenal Mbah Bolong: Dari Panggung Dakwah, Pengasuh Pesantren hingga Mendirikan SMK Berprestasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.