Selama bulan Ramadhan 2025 Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur dan Ansor University Jawa Timur menggelar acara Tadarus Ramadan setiap malam. Acara tersebut menghadirkan tokoh-tokoh andal untuk mengupas berbagai tema penting terkait keutamaan Bulan Ramadan, kajian keislaman, dan kepesantrenan secara daring.
Selasa (18/03/2025) malam, Tadarus Ramadan mengkaji tentang "Pesantren Ramah Perempuan dan Anak" yang diampu langsung oleh Ning Hj. Nawal Nur Arafah Taj Yasin selaku Pengasuh PP Al Anwar 4 Sarang dan Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah.
Dalam paparannya, Ning Nawal menjelaskan bahwa pesantren memiliki budaya yang moderat, toleran dan inklusif.
"Budaya pesantren itu toleran moderat inklusif menerima semua santri dari latar belakang apa saja kemudian masih menjaga nilai-nilai tradisional dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Pendidikan pesantren yang disiplin peduli sosialnya sangat toleran dan sangat menghormati perbedaan sebagai sunnatullah," jelas istri Wakil Gubernur Jawa Tengah ini.
Berdasarkan data dari Jaringan pemantau pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat adanya kenaikan 100 % kekerasan dan bullying di sekolah dan pesantren tahun 2024. Kasus tertinggi adalah kekerasan seksual dan Bullying.
"Kebijakan Diskriminatif 6 %, Kekerasan Psikis 10%, Kekerasan Fisik 11 %, Bullying 31 % dan Kekerasan Seksual 42%", paparnya.
Ia menambahkan kedua hal tersebut yaitu bullying dan kekerasan seksual menduduki presentase yang besar, menurutnya hal itu dapat menjadi salah satu fokus di pesantren saat ini.
"Yang menjadi kelompok rentan adalah anak-anak dan perempuan. Mengalami penderitaan secara fisik, psikologis, sosial dalam jangka panjang sehingga menjadi issue yang sangat serius," terangnya.

Ning Nawal menyebut kasus bullying dan kekerasan yang terjadi masih seringkali ditutupi, bahkan dianggap sebagai pendidikan yang biasa saja. Sehingga akan menjadi bom waktu yang akan membahayakan di pesantren. "Bagi korban, untuk melaporkan saja sangat sulit," jelasnya.
Sebab-sebab Bullying dan Kekerasan Seksual marak terjadi di Lingkungan Pesantren menurut Ning Nawal terjadi akibat beberapa hal berikut.
Pertama, Rendahnya pengetahuan terkait bullying dan kekerasan seksual oleh santri dan pengasuh/pengelola. Kedua, Rendahnya pengawasan, pembinaan dan pendampingan. Ketiga, Tidak tegas dalam menegakkan hukum. Dan keempat, Lemahnya deteksi dini, mencegah dan menangani.
Ia berharap semoga kedepannya semakin banyak Pesantren yang terbuka dengan adanya inisiatif pemerintah melalui kementerian agama untuk mewujudkan Pesantren Ramah Perempuan dan Anak.
"Adapun Prinsip-prinsip Pesantren Ramah Perempuan dan Anak antara lain, Pertama, Pesantren ramah berlandaskan pada prinsip kesetaraan gender yang menjamin antara santri laki-laki maupun santri perempuan. Kedua, Penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan prinsip fundamental dalam pesantren ramah. Ketiga, prinsip inklusivitas dalam pesantren ramah berarti pesantren harus menjadi tempat yang terbuka bagi semua kalangan dan terakhir harus adanya Partisipasi aktif dari semua pihak," terangnya.
Pengembangan Pesantren Ramah Anak sesuai keputusan Menteri Agama RI no 91 tahun 2025 tentang Peta Jalan Pengembangan Pesantren Ramah Anak sebagai berikut.
Pada tahun 2024 difokuskan pada Pengembangan infrastruktur Program Pesantren Ramah Anak. Tahun 2025 Penguatan Perspektif Pesantren Ramah Anak. Pada tahun 2026 Adanya transformasi Sistematik Pesantren Ramah Anak. Tahun 2027 difokuskan pada Pengarusutamaan Budaya Pesantren Ramah Anak. Pada tahun 2028 Pesantren Ramah Anak sebagai Model utama Pengembangan Pesantren, dan pada tahun 2029 difokuskan pada Pesantren sebagai Model Pendidikan Ramah Anak.
Selain usaha dan inisiatif seluruh pihak, hal-hal mendasar juga butuh perhatian lebih. Seperti anggapan bullying itu bukan kekerasan dan merupakan hal yang wajar dan pendidikan biasa.
“Ketika santri menjadi korban Bullying misalkan, untuk bagaimana dia merecovery fisik, psikis dan gangguan sosialnya saja itu tidak mudah. Lalu setelah dia berhasil keluar dari itu untuk menjadi duta atau membentuk pemahaman ini kepada teman-temannya menjadi sebuah hal yang tabu, seperti gundukan es, dan tidak terjadi apa-apa. Makanya pesantren harus memiliki aturan-aturan yang mendetail,”
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H. Musaffa' Safril memberikan apresiasi atas forum kajian tentang Pesantren Ramah Perempuan dan Anak tersebut. "Kita semua ingin mendapatkan ilmu dari Ning Nawal, semoga bermanfaat. Wajah baru pesantren dengan menghadirkan narasumber yang mumpuni," pungkasnya.
Acara tersebut juga didampingi oleh Ketua Ansor University Jawa Timur Dr. Abdullah Hamid, dan diikuti oleh santri serta akademisi dari Dunia Santri Community.