Di tengah dakwah modern yang kini serba digital, terdapat kisah-kisah heroik kiai kampung yang tak boleh luput dari memori peradaban. Meski namanya hampir tidak pernah memenuhi laman media, namun perannya sangat menyentuh jantung peradaban dakwah Islam di Indonesia sejak lama.
Kiai Kampung bukan hanya sekedar julukan karena tinggal di kampung-kampung, desa-desa kecil. Melainkan perannya yang sangat ulet membangun peradaban di mana ia dibutuhkan. Karena dia hidup di kampung, dia bukan hanya sebagai sosok yang paham agama namun juga paham soal kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang ada di masyarakat. Maka tidak heran jika nasehat-nasehatnya sangat menyentuh dan dijadikan panutan dalam keseharian.
Termasuk di Jombang. Kabupaten yang mendapat julukan "Kota Santri" ini selain banyak tokoh - tokoh yang terkenal seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pemikir Nur Cholis Majid (Cak Nur) dan Budayawan sekelas Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) juga banyak sosok Kiai Kampung yang turut membangun ekosistem damai di tengah masyarakat yang beragam. Meski tidak dikenal di panggung nasional, Kiai Kampung adalah sosok yang menjaga masyarakat agar tidak tercerabut dari akar sosial dan budayanya.
Seperti yang dipaparkan dalam Buku "Cahaya Sang Kiai: Meneladani Perjuangan dan Pengabdian Kiai Kampung" pada halaman 147, penulis memotret sosok Kiai Kampung yang bernama Kiai Abu Sujak. Tentu saja nama tersebut masih baru di kalangan para pembaca buku. Tapi siapa sangka? Beliau adalah salah satu sahabat dari Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, Pendiri NU. Diceritakan Kiai Abu Sujak lahir sekitar tahun 1870 di Dusun Gedangan Desa Ngudirejo Diwek. Beliau meninggal dunia tahun 1936 dan dimakamkan di Dusun Gedangan Desa Ngudirejo.
Menurut buku tersebut, dalam cerita lokal, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari muda bahkan pernah berguru kepada Kiai Abu Sujak. Menurut Cahyo Tri Atmaja (2025), cucu Kiai Abu Sujak, Hadratussyaikh muda pergi ke Gedangan dengan berjalan kaki.
Ditulis pula, pengalaman Kiai Abu Sujak dengan Syaikhona Kholil Bangkalan. Dia beberapa kali “diusir” bukan karena kurang ilmu, tetapi karena dianggap telah matang dan sudah seharusnya kembali mengajar. Dari sanalah muncul julukan “Macan Jombang” atau “Macan Putih Jombang.” Hadratussyaikh dan Kiai Abu Sujak konon disebut sebagai dua macan Jombang. Tetapi, ketika Hadratussyaikh diperkenankan pulang ke Jombang, Kiai Abu Sujak justru dijodohkan oleh Syaikhona Kholil dengan Zainah binti Kiai Arfa’ bin Sayyid Ahmad Ali al-Buni Kudus dari Maneron Kecamatan Sepuluh Bangkalan Madura.
Buku yang menuliskan perjuangan dan pengabdian 33 tokoh Kiai Kampung di Jombang ini, selain memotret Kiai juga mengulas tentang perjuangan dan pengabdian Bu Nyai Kampung. Contohnya Kisah Nyai Muniroh (halaman 2), semangat dan kegigihannya dalam berdakwah dan menjaga tradisi pengajian setuan.
"Ketika hujan deras tak kunjung reda dan santri tidak bisa pulang, Nyai Mun tanpa ragu menyajikan hidangan untuk mereka.Beliau menyediakan makan malam untuk para santrinya dengan nasi jagung, sambal dulet ditambah kerupuk asin, dan hidangan ini sungguh sangat nikmat rasanya," jelas salah satu murid Nyai Mun dalam buku tersebut.
Keteguhan Nyai Mun dalam berorganisasi teruji saat harus menjaga istiqomah kegiatan. Suatu malam Sabtu, hujan deras turun dan lampu padam (gelap total). Bermodalkan payung dan pencahayaan dari lampu sentolop atau senter, Muniroh dan jamaah lainnya tetap berangkat.
Dua kisah di atas, hanyalah sebagian kecil dari kisah-kisah perjuangan dan pengabdian Kiai Kampung dalam menghidupkan cahaya keabadian. Menurut penulis, buku ini sangat bermanfaat untuk generasi saat ini agar tidak melupakan jejak para pendahulu. Dan apapun kemudahan dan kemajuan ilmu pengetahuan terlebih tentang agama Islam pasti tidak bisa luput dari peran Kiai dan Bunyai Kampung.
Identitas Buku
Judul: Cahaya Sang Kiai
Penulis: M Farhan Rafi, dkk
Halaman : 196 halaman
Penerbit : CV Nakomu
ISBN : 978-623-142-355-9